Jumat, 21 Maret 2008

Surga VS Nirwana

At 17:52 05/08/99 +0700, Sdr Yohannes Yaali wrote:

>Apakah surga dapat disamakan dengan 'nirwana', soalnya ada cerita bahwa
>Buddha masuk ke dalam nirwana? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, ada
>uraian bahwa nirwana adalah (1) keadaan dan ketenteraman sempurna bagi
>setiap wujud eksistensi karena berakhirnya kelahiran kembali ke dunia;
>(2) tempat kebebasan (kesempurnaan); (3) surga.

--------------------------
Pertanyaan Sdr Yohannes ini sangat penting, karena: (1) mencerminkan sulitnya
membandingkan dua konsep yang berasal dari dua sistem filsafat-teologis yang
sangat berbeda; (2) menggambarkan kesimpangsiuran pengertian 'nirwana' di
kalangan awam. (Bandingkan dengan: "Nirwana" nightclub. :-) Malah di Pantai
Kuta, Bali, pada sekitar th 1980-an ada restoran bernama "Buddha Juice", dengan
gambar Buddha bermeditasi sambil memegang segelas es juice. :-))

Membandingkan paham "Tuhan" atau membandingkan paham "surga" dalam agama Islam
dan Kristen tidaklah terlalu sulit, karena kedua agama itu mempunyai paradigma
(kerangka berpikir) dan konsep-konsep dasar yang sama. Kedua-duanya termasuk
agama monoteistik.

Tetapi membandingkan konsep-konsep agama monoteistik dan agama monistik seperti
Buddhisme dan Hinduisme akan menimbulkan banyak kesulitan kalau kita tidak
menguasai kedua sistem paradigmatik itu.

Pandangan agama-agama monoteistik tentang 'roh' adalah: roh itu diciptakan dari
kekosongan oleh Tuhan (atau roh itu ditiupkan Tuhan [dan berasal dari
"nafas/roh" Tuhan] ke dalam tubuh manusia); dan pada akhirnya kelak roh akan
menghadapi persimpangan jalan: menuju surga yang kekal atau neraka yang kekal
(dengan berbagai variasinya seperti dalam ajaran Saksi Yehovah dll). Roh itu
bersifat individual dan kekal sebagai individu yang berdiri sendiri.

Dalam agama-agama monistik seperti Buddhisme dan Hinduisme, manusia itu terdiri
dari badan dan jiwa, yang selalu berproses dan tidak abadi. ('Jiwa' adalah
seperti apa yang dikaji dalam ilmu psikologi: ingatan, emosi, dorongan,
kehendak, pikiran dsb.)

Di balik badan dan jiwa ini, menurut agama Buddha tidak ada apa-apa lagi yang
eksis secara ontologis, yang dapat dikenal oleh pikiran manusia; jadi tidak ada
'roh' seperti dikenal dalam agama-agama monoteistik. Prinsip ini dalam agama
Buddha dikenal sebagai 'anatta' atau 'anatman' (dari: 'an + atman',
"bukan/tanpa diri").

Sebaliknya, menurut agama Hindu, di balik badan dan jiwa ini, ada suatu prinsip
ontologis yang abadi yang disebut 'atman'. 'Atman' ini sering dibandingkan
dengan 'roh', karena 'atman' itu dapat dipahami sebagai bersifat individual.
Namun, menurut agama Hindu, pemahaman seperti itu bukanlah pemahaman tertinggi,
karena masih terkondisi oleh individualitas orang yang memahami. (Jadi tampak
di sini bahwa agama Buddha merupakan kontras dari agama Hindu: agama Buddha
mengajarkan 'anatman', agama Hindu mengajarkan 'atman'.)

Bila orang berhasil menanggalkan individualitas itu, yakni pada keadaan yang
disebut 'moksha', maka ia akan melihat bahwa 'atman' itu IDENTIK dengan
'brahman', yakni prinsip ontologis yang mendasari alam semesta (dan yang sering
dibandingkan dengan "Tuhan"). Itulah makna persamaan monistik [HIndu] yang
terkenal: "Atman = Brahman".

(Ini adalah pengertian yang benar [menurut Hinduisme] tentang 'atman' dan
'brahman'. Jadi, ungkapan yang sering kita dengar di kalangan awam: "atman
adalah bagian dari brahman" adalah tidak tepat: 'atman' bukan "lebih kecil"
atau
"bagian" dari 'brahman', melainkan 'atman' adalah identik dengan 'brahman'.)

Kembali kepada Agama Buddha, bila orang berhasil mencapai Penerangan Sempurna,
maka ia telah mematahkan ikatannya kepada badan dan jiwanya, yang selama ini
dianggapnya sebagai dirinya yang sejati. Ia akan melihat dan menghayati
sejelas-jelasnya ketiga corak eksistensi ini: (1) tidak kekal; (2) tidak
memuaskan, dan (3) tanpa-diri. Kesadarannya akan "masuk" ke dalam kesadaran
transendental (Buddhis: keadaan 'lokuttara' -- dari 'loka + uttara' =
"mengatasi dunia"). Keadaan inilah yang disebut 'nirwana'. ('Nirwana' sendiri
berarti "padam": padamnya 'loba' [keserakahan], 'dosa' [kebencian] dan 'moha'
[ketidaktahuan], yang menjadi ciri dasar manusia yang belum mencapai Penerangan
Sempurna.)

Buddha Gautama sendiri mencapai Penerangan Sempurna pada usia 35 tahun, setelah
mengasingkan diri selama 6 tahun. Pada usia 35 tahun itulah dikatakan "Ia
'masuk' ke Nirwana." Setelah itu badan dan jiwanya masih hidup selama 45 tahun
lagi, sampai wafat pada usia 80 tahun.

Di lain pihak, dalam Agama Buddha pun dikenal 'swarga' dan 'naraka' [kedua kata
itu berasal dari bahasa Sanskrit] yang bertingkat-tingkat. Kehidupan makhluk
yang dalam agama Buddha dipercaya berlangsung berulang-ulang, bukan hanya
terjadi di alam dunia ini saja, melain bisa pula lahir dan mati di alam-alam
neraka dan surga. Masing-masing berlangsung menurut hukum sebab-akibat yang
disebut "Hukum Karma-Phala" [Hukum Perbuatan dan Buah/Pahalanya]. Baik
kehidupan di neraka maupun kehidupan di surga bukanlah kehidupan kekal. Para
dewa yang tinggal di surga itu mempunyai masa hidup, sekalipun lamanya beribu
atau berjuta tahun. Setelah berakhir masa hidupnya, para dewa itu pun akan
lenyap dari alamnya ["mati"] dan lahir kembali di alam lain [mungkin di alam
dunia lagi], meneruskan proses perjalanan karma-phalanya.

Tentang definisi 'nirwana' menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikutip
Sdr Yohannes itu, definisi (2) dan (3) adalah pengertian awam yang "salah
kaprah" tentang nirwana. Definisi (1) sudah mendekati kebenaran, tapi masih
perlu "disempurnakan" lagi: (a) "berakhirnya kelahiran kembali" bagi orang yang
telah mencapai Penerangan Sempurna bukan hanya di alam dunia tetapi juga di
alam-alam lain -- mereka tidak akan lahir kembali di alam mana pun juga; (b)
"wujud eksistensi" yang disebut-sebut dalam definisi itu tidak lagi relevan
bagi mereka yang telah mencapai Penerangan Sempurna, karena justru semua "wujud
eksistensi" itulah yang mengikat makhluk-makhluk dalam pandangan yang keliru
tentang hakikat dirinya.

Demikianlah sekelumit perkenalan dengan kerangka berpikir Buddhis dan Hindu.
Tentu masih banyak pertanyaan yang akan muncul dari penjelasan yang singkat
ini. Bila masih ada yang ingin diketahui lebih dalam, saya akan mencoba
menjelaskannya dengan senang hati.

Salam,
Hudoyo

Tidak ada komentar: