Selasa, 04 Maret 2008

pantangan untuk mendekati kaum pelacur

Bagian keenam

Bagian ini untuk menasehati manusia agar tidak ketempat pelacuran. Para pramuria tidaklah mempunya kesucian dan rasa malu, jadi kita sebagai seorang budiman (Susilawan), mana boleh memasuki tempat yang gelap dan kotor itu. Rumah tangga berantakan, ada yang keracunan lalu meninggal dan masih banyak lagi akibat-akibat menjadi pelanggan sex yang semuanya berakhir dengan mengenaskan.

Cobalah berpikir dengan jernih, apabila pada suatu hari kita (kaum pria khususnya) dalam keadaan sekarat diatas tempat tidur atau dalam penderitaan yang amat sngat, kemanakah semua jasa lalu yang penuh dengan kenangan indah dan manis itu ? sejak jaman dulu, mana ada orang yang bersedia merawat para pramuria itu ? penulis pernah mendengar salah satu lagu hokkian yang syairnya mengatakan, “Wanita dirumah bordil paling tidak berperasaan, beratus-ratus ribu uang diambilnya, namun akhirnya yang celaka adalah diriku sendiri bahkan anak istriku juga ikut mengalami penderitaan”. Ini adalah suara hati dari seorang pelanggan sex yang tersebar dari kekeliruannya.

Cerita 1

Li Cen adalah seorang pemuda yang berasal dari propinsi san tung. Biasanya dia hanya belajar dan tidak banyak bicara, kadangkala kalau dia mendengar temannya yang bicara kata-kata kotor atau mendengar perkataan mengenai perihal sex , wajahnya langsung memerah lalu pergi bersembunyi ketempat lain, menghindari mendengar perkataan yang tidak pantas itu. Ada kalanya juga, dengan kata-kata yang keras dan tegas, dia memarahi temannya agar tidak melanjutkan perkataan kotor itu. Tapi kadang-kadang dengan perkataan yang lembut menasehati teman-temannya itu. Sehingga dia dijuluki “Li Mo Ku” oleh teman-temannya. Pada tahun Ting Mau, pemerintahan raja Chien Lung, dia menuju ke ibukota dalam rangka mengikuti ujian. Ada seorang teman seperjalanannya yang sering ketempat pelacuran untuk mabuk-mabukkan dan mencari wanita penghibur. Sedangkan dia tetap berada sendirian dikamarnya, dengan tekun belajar. Pada suatu hari temannya itu mengundang wanita penghibur masuk kedalam kamarnya dan memaksa dia untuk minum bersama. Disaat wanita penghibur yang disamping Li Cen menyuguhkan arak untuknya, wanita itu dengan tangan nya merangkul pundak Li Cen. Dengan sikap manja dan suara yang merayu serta mata yang genit, wanita itu nyaris berhasil menggodanya. Namun demikian mendadak dia berdiri dan dengan cepat berlari meninggalkan tempat itu. Pada malam itu juga, dia tidur ditempat lain dan tidak berniat kembali kekamarnya. Sesudah kejadian ini, Li Cen membuat syair untuk menasehati teman-nya itu,

“Danau willow (alis mata) dapat mengacaukan pikiran,

Bunga (raut wajah yang cantik) dapat mencuri hati,

Tiada lagi orang terbaik yang patut menjadi pemimpin,

Tentara arak yang pahit, siang malam saling berebutan,

Juga ada hiburan musik untuk memperindah suasana,

Bermain wanita akan dapat mencelakakan orang,

Menbacok jendral bodoh yang bermain cinta palsu,

Tak perduli satria gagah yang dapat mendaki gunung,

Dimedan perang tiada yang tak mengalami kegagalan,

Tenaga untuk berperang telah habis, tubuh menjadi loyo,

Karena didalam kamar ada wanita penghisap dara,

Bulan berganti tahun tak perduli lagi dengan para tentara,

Juga tak peduli lagi akan keselamatan diri sendiri,

Menasehati satria pupuklah kebajikan dan berkarya besar,

Tidak berzinah dan jangan lengah, jagalah moral-moral,

Membina dirilah, asahlah tajam pedang kearifan,

Membunuh habis setan arak dan setan berhias”.

Teman-temannya setelah melihat syair itu, merasa kagum dan hormat padanya, pada tahun itu juga, Li Cen berhasil raih ranking teratas dalam mengikuti ujian Negara. Peribahasa mengatakan, “Satu niat yang lurus dapat menghancurkan ribuan kesesatan”. Hanya orang yang seperti Li Mo Ku yang begitu berbudi lurus sejarah baru mempunyai kebajikan dan mendapatkan balasan jasa yang baik.

Cerita 2

Chou Po Sun, orang San Tung jaman dinasti Ching. Pada tahun Cia Ce berhasil lulus ujian dengan hasil terbaik. Setelah pengumuman hasil ujian yang sangat memuaskan hatinya itu, dia lalu mengadakan pesta besar dan mengundang wanita penghibur kedalam kamar bacanya untuk bersenang-senang dengan mereka.

Pada malam itu juga, ayahnya yang berada jauh di kampung halaman tengah bermimpi bertemu dengan seorang Dewa yang berkata padanya, “Tahun ini putramu lulus ujian dengan hasil terbaik, sebenarnya dia dapat lulus lagi pada ujian ditahun U Chen dan menjadi pejabat. Namun karena telah melakukan perzinahan di ibukota, walau hanya dengan wanita penghibur yang dibayar dengan uang, tetapi ini semua telah mengikis budi kebajikan dari para leluhur. Maka Wen Chang Ti Cin telah menghapus nama dan jasanya. Karena leluhur kamu pernah berbuat banyak kebaikkan dan jasa pahala, sehingga dapat memberkahi anak cucunya. Jikalau putramu dapat mengubah diri dan bertobat, maka nama dan jasanya dapat dicatat kembali”.

Dikala Po Sun pulang kerumah, ayahnya betanya padanya, “Kamu sewaktu di ibukota, mengapa bersenang-senang dengan wanita penghibur ?”

Po Sun yang mengira dapat mengelabui ayahnya, lalu berkata, “Saya tidak melakukan hal itu, ayah mana boleh memfitnah diriku”. Ayahnya menjadi sangat marah dan mengatakan, “Kalau tidak ingin diketahui orang lain, maka jangan melakukannya. Apabila kamu tidak melakukan kesalahan, ayah tidak mungkin menuduh dirimu telah melakukan hal yang memalukan itu”.

Kemudian menceritakan semua mimpinya itu kepada Po Sun. setelah mendengarnya, dia menjadi terkejut sehingga bulu kuduknya merinding dan wajahnya menjadi pucat pasi. Sungguh tak disangka segala kelakuannya diluar, semuanya diketahui jelas oleh para Dewa. Bahkan ayahnya juga mengetahuinya. Pada saat itu juga, dia memasang dupa untuk bersembahyang bahwa dia akan bertobat dan berjanji tidak akan melakukan perbuatan zinah lagi. Akhirnya pada tahun U Chen tersebut, dia benar-benar berhasil lulus menjadi pejabat.

Wu IK Ce memuji Po Sun dengan bersyair ,

“Haus serta tamak sex sangatlah liar dan mengerikan,

Bertobat dan jangan melakukan perbuatan itu lagi,

Bergegas memupuk pahala, memperbaiki kesalahan dulu,

Mengembalikan kebajikan dan memberkahi anak cucu.

Cerita 3

Chu Chen, setelah menikah sekian tahun tidak dikaruniai seorang anak. Karena dia belajar didalam kuil, maka setiap malam disaat akan pulang kerumah, pasti dengan hormat dan tulus hati bersembahyang pada Dewa yang disana. Ada satu malam, istrinya bermimpi ada seorang Dewa yang berkata kepadanya, “Suami anda amat tulus hati dan menghormatiKu, maka saya dengan sepenuh tenaga telah memohin pada TUHAN untuk menganugrahi kalian seorang anak”.

Istri lalu bertanya lagi, “Apakah suamiku dapat lulus dalam ujian itu ?”

Dewa menjawab, “Jika banyak berbuat baik dan pahala pasti mendapatkan jasa dan nama”.

Chu Chen setelah pulang dan mendengar kabar gembira ini, menjadi lebih tekun lagi dan juga lebih banyak berbuat baik. Namun sayang, pada suatu hari karena tidak dapat menolak ajakan temannya, akhirnya bersama temannya pergi kerumah bordil untuk bersenang-senang dan mabuk-mabukkan. Istrinya pada malam itu juga bermimpi bertemu dengan Dewa itu yang berkata, “Suami anda tidak menghargai dan mencintai diri sendiri, sehingga diluar bersenang-senang dengan wanita penghibur. Kejadian ini telah membuat marah para Dewa, sekarang sudah tidak ada harapan lagi, bahkan dia akan mendapatkan hukuman selama nya tidak akan mendapat kan keturunan”.

Esok harinya, lalu memintanya pulang kerumah dan bertanya apa yang diperbuatnya semalam. Chu Chen juga dengan jujur mengatakan segalanya. Kemudian istrinya menceritakan mimpinya itu, Chu Chen merasa amat menyesal namun sudah terlambat, hanya dapat menangis dengan sedih dan penuh dengan kesedihan serta kekecewaan.

Cing Cien Phing mengatakan, “TUHAN akan memberikan keturunan, nama serta kedudukan. Namun semuanya menjadi kosong, hanya karena satu malam bersenang-senang ditempat hiburan”.

Ada beberapa pelanggan sex mengira bahwa dengan mempunyai uang telah boleh bersenang-senang dengan pramuria, tanpa berpikir semua dapat mengikis kebajikkan dan melanggar moral-moral. Tidak hanya sesaat tubuh ini terkena kotoran, tapi selama ratusan tahun akan ada bau busuk, lebih-lebih sesudah mati dengan roh yang tidak bersih masuk keneraka.

Peribahasa mengatakan, “Pahala sekarang dapat menghapus dosa-dosa dahulu, namun jasa pahala dahulu tidak dapat menambal dosa yang diperbuat sekarang”.

Juga ada yang mengatakan, “Satu kehidupan melaksanakan kebaikkan namun hanya karena suatu kesalahan, jasa pahala juga menjadi hilang dalam sekejab. Bagaikan memotong kayu yang beratus tahun lamanya, dalam satu hari saja terbakar habis semua”.

Ini seperti Chu Chen yang begitu tulus hormat terhadap para Dewa, begitu memohon keturunan akan mendapatkan-nya, Memohon kenamaan dan kedudukan akan mendapatkan-nya juga. Tapi karena bermain wanita ditempat pelacuran, mengakibatkan permohonan-nya tidak dikabulkan. Dan hanya yang lebih mengenaskan adalah hidup dalam kemiskinan selamanya.

Pada jaman sekarang ini ada orang yang seperti Chu Chen itu. Dalam kitab suci “Thai Sang Kan Ing Phien” tertulis bahwa berbuat kebajikkan, maka TUHAN akan memberikan rejeki. Sebaliknya apabila berbuat kejahatan, maka TUHAN akan menurunkan bencana. Dan ada lagi, “Balasan baik dan jahat bagaikan bayangan yang selalu mengikuti badan”.

Penulis pernah mendengar bahwa germo-germo yang membuka rumah pelacuran, pada akhirnya kalau tidak mengalami kepahitan hidup, pasti anak-cucunya menjadi seorang yang abnormal atau cacat. Para manusia tentang adanya hukum sebab akibat ini semua bukan lah kata-kata bohong belaka. Ditambah lagi Wen Chang Ti Cin pernah bersabda, “Didalam dosa berzinah, hukuman TUHAN akan lebih tegas, semua ini benar adanya”.

Tidak ada komentar: