Bagian kelima
Gadis yang meninggalkan rumah untuk menjadi biksuni,merupakan hal yang paling agung, mulia serta suci.namun usia masih muda, sehingga nafsu birahi belum terkikis semua. Namun tubuh kumala yang bagai malaikat dan Boddhisatva itu, mana boleh ternodai. Biarpun saling menyukai, namun langit pasti tidak akan mengampuninya. Memutuskan jalan kembali ke Surga, diri sendiri menerobos kepintu Neraka, orang yang berkearifan pasti takkan melakukan hal itu.dan seorang Pembina didalam rumah yang tidak akan menikah lagi atau pun seorang biarawati didalam gereja, juga harus menjaga kesucian dirinya. Disaat pikiran sesat mulai timbul, kita harus memikirkan para malaikat atau para suci, 3 inci diatas kepala kita ada Dewa yang mengawasi. Kalau tidak, disaat kita berbuat salah, maka dosa karma kita akan semakin dalam.
Digunung Ling Chien, terdapat kuil yang bernama Che Yin. Dalam kuil tersebut ada seorang bhiksuni muda yang bermarga Li. Ada lagi seorang pelajar muda yang bernama Cu Ming Ceng, wajahnya lembut dan tampan, alisnya bagaikan gunung dimusim semi, matanya bagaikan beningnya air dimusim gugur, sungguh merupakan seorang laiki-laki idaman. Oleh karena keadaan rumah yang kurang mapan, dia lalu menyewa satu kamar baca disamping kuil.
Bhiksuni Yi masih muda dan cantik. Mereka berdua jika membuka jendela kamar sudah dapat bertemu muka, sehingga mereka pun sering berbincang-bincang. Dimusim dingin, setiap malam bhiksuni Yi selalu menyeduhkan teh panas dan susu kedelai untuk Ming Ceng, agar dapat belajar dengan tenang.
Pada suatu hari, Ming Ceng pergi kerumah temannya untuk bersajak dan membuat syair, dan disaat pulang dia melihat ada orang tidur diatas ranjangnya. Rupanya bhiksuni Yi yang datang untuk menggodanya. Namun Ming Ceng menolak dengan tegas.
Bhiksuni Yi berkata, “Apabila hanya demi untuk mengejar kesenangan sementara saja, apakah kuil ini sudah tidak ada laki-laki lain lagi ? saya hanya merasa semakin hari kian kesepian dan tidak mempunyai masa depan bila berada dikuil ini. Maka barulah saya memutuskan untuk menyerahkan diriku padamu”. Setelah berkata demikian, hatinya merasa sedih sehingga air matapun bercucuran.
Ming Ceng lalu dengan lembut mengatakan, “Bodhisatva Kwan Im dengan susah payah memohon Tao, disaat berusia 19 beliau telah mencapai kesempurnaan. Thien Sang Sen Mu dengan hati teguh membina diri, dalam usia muda juga telah kembali kelangit, selain itu masih banyak lagi yang lainnya seperti Sien Ku, Ma Cho, dll. Dan masih ada ribuan bahkan puluhan ribu wanita yang berhasil menjadi Dewa dan mencapai keBuddha-an. Mengapa anda berkata tiada masa depan ? kalau hanya karena sedikit godaan iblis, lalu tergoyah imannya, itu dapat mengakibatkan dirimu jatuh kedalam jalur turnimbal lahir, masuk neraka untuk menerima segala siksaan dan akhirnya tidak dapat melampaui kelahiran ! jikalau saya menodai kesucianmu, maka diSurga akan kehilangan Bodhisatva, hal yang tidak bermoral ini tidak akan saya lakukan. Mulai saat ini, bukan hanya kamu dapat dengan tekad yang tinggi membina diri, saya juga tidak akan terjatuh. Hanya budi anda terhadap saya ini, selamanya tidak akan terlupakan”.
Bhiksuni Yi setelah mendengar kata-kata itu merasa amat terharu, lalu beranjak pergi. Dikemudian hari Ming Ceng pindah ketempat lain, bhiksuni Yi pun dengan tekun mempelajari serta membaca kitab suci dan juga belajar membuat sajak. Sehingga tutur bahasa dan tindakaknnya amat halus, teratur dan berwibawa. Karena tidak pernah melanggar pantangan, orang-orang disana amatlah kagum dan menghormatinya.
Akhirnya Ming Ceng berhasil menjadi seorang pejabat didaerah itu. 40 tahun kemudian, pada suatu hari mendadak melalui sanak familinya dia menerima sepucuk
Berpikir kembali dikala dia menerima budi baik bhiksuni Yi dengan seduhan teh panas dan susu kedelai, sampai saat ini juga belum terbalaskan, dalam hatinya merasa malu. Lalu dia mengutus seseorang untuk sumbangan sebesar 300 tael emas sebagai biaya untuk membangun kuil bhiksuni Yi. Itu semua adalah tanda terima kasih nya terhadap bhiksuni Yi.
Cang Se Cin seorang pemuda tampan yang berasal dari
Se Cin seringkali mengunjungi kuil tersebut, walaupun dia memiliki wajah yang tampan serta berpendidikan, namun saying hatinya tidak lurus, sehingga akhirnya dengan menggunakan kelebihannya dalam merayu, dia berhasil menipu nikow itu untuk tidur dengannya. Setelah itu, dia masih dengan segala rayuannya yang manis berjanji bahwa setelah mengikuti ujian, dia pasti akan dating melamarnya. Nikow muda itu amat percaya pada kata-katanya, malah memberikan semua hartanya kepada kekasihnya itu, untuk kelak biaya pernikahan mereka.
Sungguh
Roh yang diliputi oleh rasa benci dan dendam itu lalu terus mengejar SeCin. Akhirnya ditengah perjalanan, Se Cin mendadak jatuh tidak sadarkan diri dan dari mulutnya mengeluarkan suara nikow, yang memakinya telah menodai dan menipu harta. Pelayan Se Cin lalu berlutut memohon pada nikow itu, juga mengundang seorang hwesio untuk berdoa baginya.
Namun roh nikow itu berkata, “Dendam ini harus kubalas, aku khusus dating mengejar hanya untuk mengambil nyawa jahanam ini. Jadi maaf, saya tak dapat mengabulkan permohonan kalian”.
Se Cin setelah pulang kerumah , tiga hari kemudian tanpa sebab yang pasti, ternyata telah menemui ajalnya, dengan tujuh lobang dimukanya mengeluarkan darah. Wajahnya berubah menakutkan, keadaan-nya sungguh amat mengejutkan semua orang.
Kao Kuo Thai, karena miskin dia dikirim ke kuil nikow tempat bibinya untuk belajar. Didalam kuil tersebut terdapat seorang muda yang cantik. Karena melihat Kuo Thai merupakan seorang pemuda yang amat tampan, maka nikow muda itu tergerak hatinya dan lupa akan pantangan-pantangan nya. Lalu dia membuat satu bait untuk Kuo Thai yang berbunyi :
“Biarpun badan bersembahyang didepan Dewi Kwan Im,
Namun tidak berharap dapat menjadi Dewa Buddha,
Hanya mengharapkan setetes air kasih saying dan cinta,
Bersama-sama menikmati kesenangan duniawi”.
Kao Kuo Thai berpikir bahwa nikow itu, kalau mau telah dapat melepaskan diri dari ikatan duniawi dengan menjadi seorang nikow, pastilah bukan orang yang biasa. Mungkin hanya tidak mampu mengendalikan perasaan hatinya yang telah tergerak. Maka sudah pantasnya apabila dia menasehati nikow tersebut agar menahan diri dan nafsunya itu, terlebih lagi dia tidak boleh menodai kesucian nikow itu. Maka dia membuat syair balasan sebagai berikut :
“Sekali timbul niat buruk, Dewa pun berpindah tempat,
Begitu pindah, maka ‘enam maling’ mengacaukan hati,
Hati mulai kacau, badan ragapun tiada majikannya,
Enam jalur turmimbal lahir berada didepan mata,
Roda reinkarnasi terus berputar tiada masa batasnya,
Jalur hewan dan setan merupakan derita yang tiada tara,
Kamu janganlah ada niat dan nafsu yang tidak baik,
Sekali salah jalan akan berakibat puluhan ribu bencana”.
Nikow muda setelah membaca syair balasan itu, merasa kepalanya seperti dipukul godam, bagaikan mendengarkan suara petir siang hari, seketika itu juga menjadi sadar. Sehingga mulai saat itu juga tidak berani lagi bertemu muka dengan Kuo Thai . lalu dengan sepenuh hati mempelajari serta melaksanakan dharma ajaran sang Buddha dan akhirnya berhasil mencapai kesempurnaan.
Kao Kuo Thai, setelah kejadian itu juga telah berpindah ketempat lain yaitu rumah hartawan Chou Pan Chen. Namun setelah tinggal setengah tahun lebih, dia kehabisan uang untuk membayar sewa. Sehingga pintu kamarnya dibongkar oleh kepala pelayan rumah itu. Semua ini membuat hidupnya terasa tidak aman dan tentram lagi, dalam hati berpikir bahwa hidup dalam keadaan yang demikian miskin, apalah artinya lagi. Lalu dia pergi ketengah hutan untuk mengakhiri hidupnya.
Dikala dia akan menggantung diri, mendadak muncul Buddha Ci Kung yang juga membawa seutas tali, lalu berjalan menghampirinya dan berkata, “Pohon ini akan saya pergunakan untuk gantung diri. Harap kamu jangan berebut denganku, carilah tempat lain”.
Dia lalu bertanya kepada Sang Padri, sebab mengapa ingin membunuh diri. Sang Padri berkata, “Saya berhutang uang pada orang, tapi tidak mampu untuk membayarnya. Sehingga berpikir pendek seperti ini, kamu bagaimana ?”
Kuo Thai lalu menceritakan nasibnya yang
“Saya adalah orang yang akan segera mati, uang-uang ini apa gunanya lagi untuk diriku. Lebih baik diberikan kepada suhu untuk membayar hutang”, jawab Kuo
Buddha Hidup Ci Kung menjadi amat terharu oleh ketulusan hatinya lalu berkata, “Hartawan Chou adalah kawan baik saya, kamu ikutlah denganku. Masalah uang sewa itu akan saya.bantu untuk menyelesaikannya”.
Mereka berdua lalu mendatangi rumah hartawan itu. Tuan Chou melihat yang datang adalah Buddha Ci Kung adanya, segera datang menyambut dengan penuh rasa hormat dan dilayani layaknya tamu agung. Setelah masuk kedalam rumah, Buddha Ci Kung lalu memperkenalkan Kuo
Kao Kuo Thai akhirnya lulus dalam ujian Negara dan menjadi seorang pejabat yang jujur, bersih dan memperhatikan rakyat miskin. Dia menjabat selama dua puluh tahun lebih, bersama anak istrinya hidup dalam kejayaan serta kemuliaan. Disaat usianya mencapai setengah abad dia lalu melepaskan diri dari duniawi dengan berpensiun dan pergi membina diri. Hidupnya mencapai usia 80 tahun, setelah meninggal dia juga berhasil mencapai kesempurnaan.
Menjelang saat-saat terakhirnya, dia melihat nikow yang dulu itu melayang ditengah udara. Dengan memancarkan sinar yang terang dan menyebarkan hawa yang suci, nikow itu lalu berkata, “Silahkan tuan penolong naik dan duduk diatas teratai pusaka ini”. Kemudian membawa terbang pergi. Ini semua adalah hasil perbuatan baiknya !
Wu Ik Ce bersajak :
“Suka bermain wanita, akan mencelakai manusia,
Jerih payah bersekolah, hancur dalam satu hari saja,
Mengapa tidak mencontoh perbuatan Kao Kuo Thai,
Hidup sampai usia 80, dan akhirnya kembali ke surga”.


.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar