Bagian ketiga
Orang jaman dahulu demi para janda yang tetap menjaga kesuciannya, sering membangun sebuah pagura suci baginya. Maka bagi para janda yang dapat tetap menjaga kesuciannya pantas kita hormati. Tetapi kalau ada berhubungan pribadi dengan orang lain, pasti akan merusak moral kebajikan diri sendiri dibawah ini merupakan cerita pembalasan yang cepat dari perbuatan berzinah, mari kita ikuti bersama.
Pada dinasti Thang, hidup lah seorang perdana menteri yang bernama Ti Liang Kung dengan gelar Jen Cie. Dia memiliki tinggi badan delapan kaki dan wawasan luas. Semasa mudanya, dia amatlah tampan. Dan ada satu kali, demi untuk mengikuti ujian Negara, dia pernah menginap di suatu penginapan.
Pada suatu hari, saat tengah malam, tiba-tiba datang seorang janda muda kedalam kamarnya. Rupanya adalah menantu pemilik penginapan yang baru saja ditinggal mati suaminya. Karena melihat Jen cie amatlah tampan, maka tergerak hatinya, lalu dengan alasan ingin meminjam api, dia memasuki kamar Jen Cie dengan maksud untuk berselingkuh.
Nyatanya, sedikitpun Jie Cie tidak tergoyahkan hatinya. Malahan dengan tenang berkata padanya, “Begitu melihat dirimu, aku menjadi ingat kata-kata seorang biksu tua.” Janda muda itu tidak mengerti maksud dari kata-katanya, lalu meminta penjelasan.
Jin Cie menjelaskan, ‘Dulu saya pernah belajar di vihara, dan biksu tua disana pernah berkata kepada saya, “Tuan, kelak anda pasti akan menjadi orang yang sukses, namun anda haruslah berhati-hati, janganlah haus sex dan melakukan perzinahan!” Saya lalu berkata. “Wanita yang cantik siapa juga suka, bagaimana mungkin dapat mengendalikan nafsu keinginan ini ? ”Lalu biksu tua itu menjelaskan padaku, “Mengendalikan nafsu ini sebenarnya tidaklah sulit, dalam hatimu dapat timbul nafsu birahi itu karena kamu menyukai kecantikkannya. Apabila wanita cantik itu kamu ibaratkan sebagai seekor siluman rubah, ular beracun atau setan dedemit, wajahnya kamu anggap seperti orang berpenyakitan, pucat dan kurus atau seperti wajah setan, lalu anggaplah dandanan wajahnya seperti dandanan sebuah mayat, wajah kehitam-hitaman dan tampak sangat buruk, kemudian tubuh yang indah dan menggairahkan itu dianggap seperti satu penyakit menular yang dapat mengakibatkan badanmu membusuk dan hancur, atau bagaikan tubuh yang digerogoti oleh ulat disana sini dang sangat mengerikan. Bisa berpikir demikian, api nafsu ini akan menjadi padam bagaikan mendapat siraman es yang dingin.”
Lalu sambil tersenyum dia melanjutkan lagi, “Saya amat memuji ajaran-ajaran dari biksu tua itu, sehingga tidak berani melupakannya. Tadi begitu melihat paras mu yang cantik, saya juga ada perasaan tertarik, namun saat itu juga saya mencoba ajaran tadi yang diatas tadi, langsung perasaan ini dingin seketika. Jika kamu dapat menjaga kesucian dirimu samapi selamanya, itulah satu perbuatan yang mulia, namun sebaliknya kamu hanya karena tertarik oleh ketampananku saja sudah tidak dapat menahan diri lagi. Apabila kamu dapat berpikir seperti saya tadi, mana ada gairah cinta ? lagipula mertuamu sudah berusia lanjut dan anakmu masih kecil, apabila kamu selingkuh dan pergi dengan diriku, mertua dan anakmu akan bagaimana jadinya ?
Karena melihat janda itu hanya menundukkan kepala saja, maka dia bercerita lagi, “Dahulu kala ada seorang wanita bernama Han Cu In, dikarenakan takut diganggu oleh penjahat pemerkosa, maka dia berani memotong hidungnya sendiri.
Janda muda mendengarkan semua itu, merasa amat berterima kasih dan terharu hatinya. Lalu sambil meneteskan air mata, dia berkata, “Terima kasih atas budi besar tuan penolong. Anda bukan hanya menjaga kesucian diriku, juga mengajariku cara untuk mengendalikan hawa nafsu ini. Mulai saat ini hatiku akan seperti sumur tua yang selamanya bersih, juga bagaikan batu kumla yang berusia ratusan tahun. Dengan hati yang teguh, saya akan menjaga kesucian diri demi untuk membalas budi tuan penolong”. Setelah memberi hormat kepada Jen Cie, dia berkata lagi “Masalah ini harap jangan disebarluaskan lagi”. Lalu dengan cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Jen Cie membuat satu sajak yang berbunyi :
“Dunia yang indah dan penuh dengan warna-warni,
Aku menzinahi istri orang, istriku dizinahi orang lain,
Disaat nafsu birahi muncul, kenanglah almarhum istri,
Tubuh yang dipenuhi degan ulat, lenyaplah nafsu itu.”
Dikemudian hari, janda muda itu akhirnya menjadi terkenal karena senantiasa menjaga kesucian dirinya dan Jen Cie menjadi perdana menteri dinasti Thang. Ini semua diperoleh dari keteguhan membina dirinya yang tak pernah berubah.
Tuan Chiu Yong Ik membuat sajak pujian,
“Menjaga diri dan berprinsip menghindari jodoh buruk,
Dapat menasehati janda untuk teguh menjaga kesucian,
Berbuat hal yang gemilang dengan pantang berzinah,
Meninggalkan nama harum dan mengharumkan TUHAN.”
Waktu berusia 20 tahun, pernah sekali mereka berdua bersama-sama pergi mengikuti ujian kecamatan, lalu menginap disatu losmen. Dalam losmen itu terdapat seorang janda muda yang cantik jelita.dikarenakan kesepian, maka begitu melihat Siau Piau yang amat tampan, timbul niannya untuk menikah lagi. Lalu janda muda ini langsung masuk kamar Siau Piau dan mengutarakan maksudnya, namun Siau Piau menasehatinya dan berkata, “Antara pria dan wanita, tidak boleh sembarangan, apabila tiada urusan jangan datang kekamar saya, kalau orang-orang salah paham dapat merusak nama baik kita”.
Janda muda itu tidak peduli, malahan menjadi lebih sering mendatangi kamarnya. Sehingga membuat Siau Piau lebih tegas lagi menolak janda itu dan memberitahu adiknya, “Dipenginapan ini ada seorang janda muda yang sering menggoda saya, tapi telah kutolak dengan tegas. Kamu haruslah hati-hati, jangan sekali-kali melakukan hal yang memalukan, sehingga merusak kebajikan leluhur kita”. Dan Siau Ci pura-pura menyetujuinya.
Dihari lain, saat janda muda itu datang lagi untuk menggoda, Siau Ci menggunakan kesempatan itu untuk memuaskan nafsu bejadnya. Karena wajah kakak beradik itu bagai pinang dibelah dua, sama dan serupa, maka janda itu sama sekali tidak sadar bahwa yang bersama dengan nya adalah Siau Ci bukan Siau Piau.
Pada saat pengumuman hasil ujian dipasang, ternyata Siau Piau lulus ujian dan Siau Ci tidak lulus ujian. Siau CI bukanya menyesal atas segala perbuatannya, malah menipu janda itu lagi dengan berkata, “Saya telah berhasil lulus ujian, nanti tahun depan pada musim semi ada ujian tingkat provinsi, apabila saya berhasil lulus, pasti saya datang untuk melamar dirimu”. Janda muda amatlah percaya akan kata-katanya, malah memberi barang-barang yang berharga kepada Siau Ci.
Tahun berikutnya pada musim semi, Siau Piau ternyata lulus ujian tingkat provinsi itu. Janda muda mendengar kabar gembira ini, lalu menunggu lamaran Siau Piau. Namun hari demi hari berlalu, juga tiada kabar beritanya. Janda muda menjadi sedih, marah dan benci sehingga membuatnya jatuh sakit dan meningal dunia. Sebelum meninggal, dia ada menulis
Disaat menerima
Wang Ci Ce sambil menghela napas berkata,
“Lahir dengan wajah yang amat serupa,
Mendapatkan pendidikan yang sama pula,
Hanya karena berzinah dengan seorang janda,
Akibatnya, nasib mereka berlainan jadinya,
Pembalasan akibat berzinah demikian cepatnya.
Peribahasa sering berkata, “Hidup dan mati ditentukan oleh nasib” artinya keberuntungan atau kemalangan diatur oleh nasib, namun menilik dari cerita diatas, dapat diketahui bahwa nasib ditentukan oleh hati dan perbuatan manusia itu sendiri,
Maka Po Yin Ci menulis sajak yang berbunyi,
“Ramalan nasib walau tepat, namun sulit dipastikan,
Kaya atau miskin timbul pada saat yang sama,
Baik atau jahat sesuai dengan satu niat hati saja,
Akibatnya, ribuan keberuntungan atau kemalangan.”


.jpg)
1 komentar:
artikel menarik, komentar juga ya ke blog saya www.belajarbahasaasing.com
Posting Komentar