Berwisata tidak selalu harus menuruti petunjuk brosur wisata standar. Brian Jonston menuturkan apa yang dia temukan di suatu tempat terpencil di Propinsi Sichuan, Cina, yang dimuat dalam The Straits Times
Orang Amerika itu nyaris pas dengan stereotip turis-turis dari negara Paman Sam: setengah baya, gemuk, berpakaian agak norak. Keringat bercucuran di dahinya. Begitu melihat saya, hampir-hampir saya ditubruknya lantaran lega. Agaknya, selain kami berdua, tak ada lagi orang asing di Dazu.
"Hotelnya sungguh payah," katanya. (Memang.) "Dengan apa Anda ke sini? Saya naik bus umum dari Chongqing. Huh, menderita!" Nada bicaranya seolah "menuduh" kalau bus umum menjadi sarana untuk menyiksa orang. Namun, harus diakui, di Cina terkadang memang demikian.
Saya juga tiba dengan bus, setelah melalui perjalanan sejauh 160 km dari Chongqing. Satu-satunya rute lain yang dapat ditempuh untuk mencapai kawasan terpencil di Propinsi Sichuan ini adalah jalur kereta api dari Youting, yang jaraknya 30 km dari Dazu.
Sichuan yang luasnya 567.000 km2 termasuk propinsi dengan jumlah penduduk yang padat. Hampir 10% populasi Cina berdiam di sini. Iklimnya pas untuk bercocok tanam. Hangat di musim panas dan tidak terlalu dingin di musim dingin sehingga memungkinkan kegiatan pertanian berlangsung sepanjang tahun. Padi menjadi tanaman utama. Juga tanaman minyak lobak yang memasok kebutuhan minyak goreng di Cina. Pada akhir bulan Maret dataran penuh dengan warna kuning, bunga tanaman minyak lobak itu. Sementara di tepian tanaman tumbuh pohon murbei yang menyediakan daun bagi ulat sutera yang banyak dibudidayakan.
Sayangnya, wilayah yang indah di Dazu ini jarang mendapat perhatian wisatawan. Barangkali karena terpencil. Namun, justru karena tempatnya begitu mojok, pahatan pada dinding gua dan patung-patung batu yang terkenal di sana bisa bertahan sampai kini. Telah ratusan tahun tersembunyi, tak terjamah tangan-tangan jahil dan usil.
Cina memang kaya warna. Selain keramik yang sudah mendunia, pahatan pada dinding batu seperti di Dazu pun luar biasa unik. Sekarang, situs itu menjadi salah satu situs Budha terpenting di Cina. Di sana terdapat hampir 50.000 karya ukiran batu berasal dari abad IX - XIII, tersebar di 40 lokasi, (setingkat) Kabupaten Dazu.
Begitu melihat koleksi yang tersebar di sini, hilanglah segala rasa letih dan derita akibat naik bus dari Chongqing. Begitu banyak patung terkonsentrasi di wilayah ini, rupanya faktor kebetulan historis belaka. Pada masa antara akhir Dinasti Tang (907) sampai akhir Dinasti Song Selatan (1279), banyak penyair, seniman, dan pemahat datang ke Propinsi Sichuan, yang waktu itu merupakan pusat studi. Pada saat yang sama, raja-raja lokal mendukung kehidupan beragama dan aktivitas seni, sehingga tercipta patung-patung pahatan bertema ajaran Budha yang artistik.
Masih utuh setelah 800 tahun
Menurut catatan, seni pahat Dazu baru berkembang empat abad setelah munculnya seni pahat lain di Cina, yang bertema ajaran Budha, dan sudah lebih dikenal. Tampilan Budhanya lebih sederhana, sementara corak dan tema yang digarap bukan keagamaan semata, tetapi juga bersangkut paut dengan kehidupan keseharian.
|  |
| Patung Buddha Tidur menuju nirwana (Insight Guides China) |
Patung Budha pertama di wilayah ini terpahat di Beishan (Gunung Utara), beberapa kilometer di luar Kota Dazu. Konon, patung buatan tahun 892 itu dibuat atas perintah seorang komandan militer yang alim yang memerintah wilayah Sichuan Timur bernama Wei Junjing. Ternyata proyek itu seperti sebuah luncuran bola salju, menyuburkan kehidupan keagamaan dan memancing datangnya semakin banyak pemahat selama lebih dari dua abad. Akhirnya, ada lebih dari 10.000 karya pahat berjajar memanjang di sepanjang bukit batu itu.
Kini, setelah berumur 800-an tahun karya-karya pahatan batu itu banyak yang telah mengalami pelapukan berat; bentuk dan lekukannya kabur, bahkan sebagian ada yang kehilangan anggota badannya. Namun, ada juga yang masih apik lantaran terlindungi oleh bebatuan yang memayungi dari atas.
Di gua bernama Roda Alam Semesta, ada sebuah lingkaran batu dengan ukiran yang rumit, menggambarkan siklus kehidupan yang harus dialami manusia dan ajaran-ajaran Budha. Tak jauh dari situ ada Sang Dewi Welas Asih (Dewi Kwan Im) memegang tasbih dengan jari-jarinya yang halus. Ada juga patung-patung kaisar, biksu, pagoda-pagoda, dan kuil-kuil mungil. Relief-relief menggambarkan burung hong, naga, ular, dan burung-burung eksotis.
Lima belas kilometer timur laut Dazu, ada Baodingshan (Gunung Harta Karun) yang sangat mudah dicapai dengan bus umum. Di sini terdapat 10.000 pahatan yang tersembunyi di lembah berbentuk tapal kuda tepat di bawah sebuah biara. Pahatan-pahatan di gua itu termasuk pahatan hebat terakhir di Cina, dikerjakan di sepanjang permukaan tebing terjal hanya selama kurun waktu 70 tahun, antara 1179 - 1249. Kumpulan karya pahatan itu rupanya dirancang serius. Reliefnya saling berhubungan membentuk cerita. Ceritanya tidak begitu menonjolkan religiusitas dan corak gambarnya lebih realistis dibandingkan dengan yang ada di Beishan.
Kebanyakan karya pahatan itu masih dalam keadaan baik, sebagian berkat sistem drainase yang baik di dalam gua. Pipa yang tersembunyi di belakang bukit berfungsi sebagai saluran pembuangan air hujan. Sangat tipikal Cina, perpaduan unsur seni kuno dan teknologi.
Dewi Kwan Im setinggi 3 m
Titik sentral objek di Baodingshan adalah patung Budha Tidur yang amat besar, lebih dari 30 m panjangnya. Ia berbaring miring, menyandar pada siku saat memasuki nirwana, dengan sunggingan senyum dan ekspresi kebahagiaan penuh di wajahnya. Pahatan itu berukuran sangat besar sampai-sampai ruangan tidak cukup seandainya patung dibentuk utuh. Budha yang tergolek itu terpotong di bagian lutut oleh dinding bukit yang berbelok pas pada lengkungan tapal kuda. Namun karya pahat Budha itu tampak elok, menggambarkan pencerahan dan kebebasan spiritual.
Tak jauh dari situ, pada dinding gua terpahat miniatur bunga-bunga, kuil, dan makhluk-makhluk surgawi. Ada sekumpulan ukiran yang bertemakan kasih sayang orang tua. Di situ ditunjukkan gambaran kehamilan, kelahiran, bayi sedang menyusu, dan masa kanak-kanak. Tertulis di papan, "The Loving Kindness of Mother".
Ada pula gambaran bentuk hukuman yang diterima bila orang tidak berbakti kepada orang tua, merupakan perkawinan antara tradisi Budha dan Konfusius. Di gua lain terdapat pahatan Sang Dewi Welas Asih yang tingginya 3 m dan bertangan seribu, semuanya meraih ke arah luar dari dinding. Pahatan jari-jari yang terpentang dari semua tangan itu meliputi luas 80 m2. Karena tergambar di belakang sang dewi, jari-jari itu kelihatan seperti ekor merak. Pada telapak setiap tangan dipahat juga gambar mata yang berwarna, menyimbolkan kebijaksanaan. Banyak tangan yang sedang memegang tasbih, ada juga yang memegang kuil mungil. Keseluruhan patung ini berwarna emas, biru, dan hijau-biru.
Ada roda lain di Baodingshan, yang dipegang oleh makhluk besar dengan mata melotot dan taring menonjol, menyimbolkan enam masa peralihan yang harus dijalani oleh makhluk hidup, termasuk manusia.
Hukuman sadis bagi yang amoral
Bagi yang tindak tanduknya tidak bermoral, salah satu altar menguraikan berbagai macam hukuman kejam. Namun, pelbagai pahatan yang cukup menyeramkan itu justru termasuk yang paling asyik dinikmati. Bahkan beberapa patung, seukuran setengah manusia, benar-benar terlihat berdiri bebas, bukan berupa pahatan, sehingga tampak semakin hidup.
Misalnya saja, ada setan berkepala kuda sedang menenteng seorang manusia pada rambut dan kakinya, dan sedang berancang-ancang hendak melemparkan manusia malang itu ke dalam minyak mendidih! Monster lain yang juga berkepala kuda, berbaju zirah, lari sambil menghunjamkan tombak ke tubuh seseorang. Ada lagi seorang pendosa tampak digambarkan menjelang dicabik tubuhnya jadi empat oleh tarikan empat ekor kuda. Yang lain dilumatkan di bawah putaran batu gerinda dengan mata gerinda bergerigi tajam. Di sekitarnya ada hantu menggeliat mengerikan di dalam siksaan abadi. Menderita di lautan api, kelaparan, banjir, dan kedinginan.
Di tengah suasana seram tampak seorang figur menyendiri yang dikenal sebagai Si Pemelihara Ayam. Dosa perempuan ini adalah suka membunuh binatang, yang bertentangan dengan ajaran Budha. Hukumannya tidak ditunjukkan, tetapi dia tampaknya bisa duduk tenang dan cukup bahagia, sambil menaburkan biji-bijian dari keranjang kepada ayam-ayam di dekatnya.
Sesudah melewati semua pemandangan mengerikan itu, dengan lega kita tiba pada adegan terakhir. Pada dinding tebing tergambar pemandangan pedesaan yang menyenangkan. Kerbau sedang minum di sungai bening beriak dan para petani meniup suling.
"Adegan yang terakhir ini dipahat sedemikian bagusnya sehingga seolah-olah kerbau dan gembalanya setiap saat siap datang bila Anda panggil," demikian bunyi salah satu selebaran berpromosi.
Kenyataannya, Baodingshan dikitari pemandangan yang tidak banyak berbeda. Hamparan sawah tampak sejauh mata memandang. Kalau diperhatikan laksana lukisan bercorak kuning dan hijau muda yang mewakili gambaran padi yang masih muda dengan padi siap panen. Di kejauhan beberapa petani berjalan memeriksa tanaman kalau-kalau ada burung yang menggerogoti bulir padi. Bahkan ada kerbau yang sama seperti tergambar di pahatan tadi. (*/yan)
Berwisata tidak selalu harus menuruti petunjuk brosur wisata standar. Brian Jonston menuturkan apa yang dia temukan di suatu tempat terpencil di Propinsi Sichuan, Cina, yang dimuat dalam The Straits Times
Orang Amerika itu nyaris pas dengan stereotip turis-turis dari negara Paman Sam: setengah baya, gemuk, berpakaian agak norak. Keringat bercucuran di dahinya. Begitu melihat saya, hampir-hampir saya ditubruknya lantaran lega. Agaknya, selain kami berdua, tak ada lagi orang asing di Dazu.
"Hotelnya sungguh payah," katanya. (Memang.) "Dengan apa Anda ke sini? Saya naik bus umum dari Chongqing. Huh, menderita!" Nada bicaranya seolah "menuduh" kalau bus umum menjadi sarana untuk menyiksa orang. Namun, harus diakui, di Cina terkadang memang demikian.
Saya juga tiba dengan bus, setelah melalui perjalanan sejauh 160 km dari Chongqing. Satu-satunya rute lain yang dapat ditempuh untuk mencapai kawasan terpencil di Propinsi Sichuan ini adalah jalur kereta api dari Youting, yang jaraknya 30 km dari Dazu.
Sichuan yang luasnya 567.000 km2 termasuk propinsi dengan jumlah penduduk yang padat. Hampir 10% populasi Cina berdiam di sini. Iklimnya pas untuk bercocok tanam. Hangat di musim panas dan tidak terlalu dingin di musim dingin sehingga memungkinkan kegiatan pertanian berlangsung sepanjang tahun. Padi menjadi tanaman utama. Juga tanaman minyak lobak yang memasok kebutuhan minyak goreng di Cina. Pada akhir bulan Maret dataran penuh dengan warna kuning, bunga tanaman minyak lobak itu. Sementara di tepian tanaman tumbuh pohon murbei yang menyediakan daun bagi ulat sutera yang banyak dibudidayakan.
Sayangnya, wilayah yang indah di Dazu ini jarang mendapat perhatian wisatawan. Barangkali karena terpencil. Namun, justru karena tempatnya begitu mojok, pahatan pada dinding gua dan patung-patung batu yang terkenal di sana bisa bertahan sampai kini. Telah ratusan tahun tersembunyi, tak terjamah tangan-tangan jahil dan usil.
Cina memang kaya warna. Selain keramik yang sudah mendunia, pahatan pada dinding batu seperti di Dazu pun luar biasa unik. Sekarang, situs itu menjadi salah satu situs Budha terpenting di Cina. Di sana terdapat hampir 50.000 karya ukiran batu berasal dari abad IX - XIII, tersebar di 40 lokasi, (setingkat) Kabupaten Dazu.
Begitu melihat koleksi yang tersebar di sini, hilanglah segala rasa letih dan derita akibat naik bus dari Chongqing. Begitu banyak patung terkonsentrasi di wilayah ini, rupanya faktor kebetulan historis belaka. Pada masa antara akhir Dinasti Tang (907) sampai akhir Dinasti Song Selatan (1279), banyak penyair, seniman, dan pemahat datang ke Propinsi Sichuan, yang waktu itu merupakan pusat studi. Pada saat yang sama, raja-raja lokal mendukung kehidupan beragama dan aktivitas seni, sehingga tercipta patung-patung pahatan bertema ajaran Budha yang artistik.
Masih utuh setelah 800 tahun
Menurut catatan, seni pahat Dazu baru berkembang empat abad setelah munculnya seni pahat lain di Cina, yang bertema ajaran Budha, dan sudah lebih dikenal. Tampilan Budhanya lebih sederhana, sementara corak dan tema yang digarap bukan keagamaan semata, tetapi juga bersangkut paut dengan kehidupan keseharian.
|  |
| Patung Buddha Tidur menuju nirwana (Insight Guides China) |
Patung Budha pertama di wilayah ini terpahat di Beishan (Gunung Utara), beberapa kilometer di luar Kota Dazu. Konon, patung buatan tahun 892 itu dibuat atas perintah seorang komandan militer yang alim yang memerintah wilayah Sichuan Timur bernama Wei Junjing. Ternyata proyek itu seperti sebuah luncuran bola salju, menyuburkan kehidupan keagamaan dan memancing datangnya semakin banyak pemahat selama lebih dari dua abad. Akhirnya, ada lebih dari 10.000 karya pahat berjajar memanjang di sepanjang bukit batu itu.
Kini, setelah berumur 800-an tahun karya-karya pahatan batu itu banyak yang telah mengalami pelapukan berat; bentuk dan lekukannya kabur, bahkan sebagian ada yang kehilangan anggota badannya. Namun, ada juga yang masih apik lantaran terlindungi oleh bebatuan yang memayungi dari atas.
Di gua bernama Roda Alam Semesta, ada sebuah lingkaran batu dengan ukiran yang rumit, menggambarkan siklus kehidupan yang harus dialami manusia dan ajaran-ajaran Budha. Tak jauh dari situ ada Sang Dewi Welas Asih (Dewi Kwan Im) memegang tasbih dengan jari-jarinya yang halus. Ada juga patung-patung kaisar, biksu, pagoda-pagoda, dan kuil-kuil mungil. Relief-relief menggambarkan burung hong, naga, ular, dan burung-burung eksotis.
Lima belas kilometer timur laut Dazu, ada Baodingshan (Gunung Harta Karun) yang sangat mudah dicapai dengan bus umum. Di sini terdapat 10.000 pahatan yang tersembunyi di lembah berbentuk tapal kuda tepat di bawah sebuah biara. Pahatan-pahatan di gua itu termasuk pahatan hebat terakhir di Cina, dikerjakan di sepanjang permukaan tebing terjal hanya selama kurun waktu 70 tahun, antara 1179 - 1249. Kumpulan karya pahatan itu rupanya dirancang serius. Reliefnya saling berhubungan membentuk cerita. Ceritanya tidak begitu menonjolkan religiusitas dan corak gambarnya lebih realistis dibandingkan dengan yang ada di Beishan.
Kebanyakan karya pahatan itu masih dalam keadaan baik, sebagian berkat sistem drainase yang baik di dalam gua. Pipa yang tersembunyi di belakang bukit berfungsi sebagai saluran pembuangan air hujan. Sangat tipikal Cina, perpaduan unsur seni kuno dan teknologi.
Dewi Kwan Im setinggi 3 m
Titik sentral objek di Baodingshan adalah patung Budha Tidur yang amat besar, lebih dari 30 m panjangnya. Ia berbaring miring, menyandar pada siku saat memasuki nirwana, dengan sunggingan senyum dan ekspresi kebahagiaan penuh di wajahnya. Pahatan itu berukuran sangat besar sampai-sampai ruangan tidak cukup seandainya patung dibentuk utuh. Budha yang tergolek itu terpotong di bagian lutut oleh dinding bukit yang berbelok pas pada lengkungan tapal kuda. Namun karya pahat Budha itu tampak elok, menggambarkan pencerahan dan kebebasan spiritual.
Tak jauh dari situ, pada dinding gua terpahat miniatur bunga-bunga, kuil, dan makhluk-makhluk surgawi. Ada sekumpulan ukiran yang bertemakan kasih sayang orang tua. Di situ ditunjukkan gambaran kehamilan, kelahiran, bayi sedang menyusu, dan masa kanak-kanak. Tertulis di papan, "The Loving Kindness of Mother".
Ada pula gambaran bentuk hukuman yang diterima bila orang tidak berbakti kepada orang tua, merupakan perkawinan antara tradisi Budha dan Konfusius. Di gua lain terdapat pahatan Sang Dewi Welas Asih yang tingginya 3 m dan bertangan seribu, semuanya meraih ke arah luar dari dinding. Pahatan jari-jari yang terpentang dari semua tangan itu meliputi luas 80 m2. Karena tergambar di belakang sang dewi, jari-jari itu kelihatan seperti ekor merak. Pada telapak setiap tangan dipahat juga gambar mata yang berwarna, menyimbolkan kebijaksanaan. Banyak tangan yang sedang memegang tasbih, ada juga yang memegang kuil mungil. Keseluruhan patung ini berwarna emas, biru, dan hijau-biru.
Ada roda lain di Baodingshan, yang dipegang oleh makhluk besar dengan mata melotot dan taring menonjol, menyimbolkan enam masa peralihan yang harus dijalani oleh makhluk hidup, termasuk manusia.
Hukuman sadis bagi yang amoral
Bagi yang tindak tanduknya tidak bermoral, salah satu altar menguraikan berbagai macam hukuman kejam. Namun, pelbagai pahatan yang cukup menyeramkan itu justru termasuk yang paling asyik dinikmati. Bahkan beberapa patung, seukuran setengah manusia, benar-benar terlihat berdiri bebas, bukan berupa pahatan, sehingga tampak semakin hidup.
Misalnya saja, ada setan berkepala kuda sedang menenteng seorang manusia pada rambut dan kakinya, dan sedang berancang-ancang hendak melemparkan manusia malang itu ke dalam minyak mendidih! Monster lain yang juga berkepala kuda, berbaju zirah, lari sambil menghunjamkan tombak ke tubuh seseorang. Ada lagi seorang pendosa tampak digambarkan menjelang dicabik tubuhnya jadi empat oleh tarikan empat ekor kuda. Yang lain dilumatkan di bawah putaran batu gerinda dengan mata gerinda bergerigi tajam. Di sekitarnya ada hantu menggeliat mengerikan di dalam siksaan abadi. Menderita di lautan api, kelaparan, banjir, dan kedinginan.
Di tengah suasana seram tampak seorang figur menyendiri yang dikenal sebagai Si Pemelihara Ayam. Dosa perempuan ini adalah suka membunuh binatang, yang bertentangan dengan ajaran Budha. Hukumannya tidak ditunjukkan, tetapi dia tampaknya bisa duduk tenang dan cukup bahagia, sambil menaburkan biji-bijian dari keranjang kepada ayam-ayam di dekatnya.
Sesudah melewati semua pemandangan mengerikan itu, dengan lega kita tiba pada adegan terakhir. Pada dinding tebing tergambar pemandangan pedesaan yang menyenangkan. Kerbau sedang minum di sungai bening beriak dan para petani meniup suling.
"Adegan yang terakhir ini dipahat sedemikian bagusnya sehingga seolah-olah kerbau dan gembalanya setiap saat siap datang bila Anda panggil," demikian bunyi salah satu selebaran berpromosi.
Kenyataannya, Baodingshan dikitari pemandangan yang tidak banyak berbeda. Hamparan sawah tampak sejauh mata memandang. Kalau diperhatikan laksana lukisan bercorak kuning dan hijau muda yang mewakili gambaran padi yang masih muda dengan padi siap panen. Di kejauhan beberapa petani berjalan memeriksa tanaman kalau-kalau ada burung yang menggerogoti bulir padi. Bahkan ada kerbau yang sama seperti tergambar di pahatan tadi. (*/yan)