Kamis, 24 April 2008

Memahami Hukum Karma Bab 9

BAB IX

CARA TERBAIK UNTUK MENGHAPUS DAN MERUBAH NASIB BURUK MENJADI NASIB BAIK

Keng “Ta Pai San Kai Fu Mu Sin” adalah yang khusus dibaca oleh aliran Mi Cung dalam agama Buddha. Keng ini sangat sederhana upacaranya pun sederhana namun hasilnya luar biasa, mempunyai kesaktian yang tak dapat diduga.

Orang yang membaca Keng ini dapat memukul mundur semua setan dan musuh, melumatkan semua mantra jahat, menghindari semua malapetaka, menaklukkan semua hantu dan setan, menghilangkan segala penyakit yang aneh-aneh hingga tercapailah ketentraman hatinya. Semua permohonan baik rejeki, usia, perjodohan, keturunan, kecerdasan, usaha, kesembuhan, merubah permusuhan menjadi persahabatan, perkara pengadilan menjadi perdamaian, terhindar dari kecelakaan jalanan yang tiba-tiba dsb, semua akan terkanul dan berhasil. Orang yang memebaca Keng ini akan sering disenangi dan dilindungi Malaikat, akan menerima karunia besar dan selamat, besar amalnya.

Uapacara dan caranya sbb:

Letakkan diatas altar “Patung Ta Pai San Kai Fu Mu” dan Keng Lun” untuk pemujaan (boleh pula hanya memuja patung/gambarnya atau Keng Lun saja. Sebaiknya Keng Lun ditulis dengan huruf putih diatas kaca bulat yang bertepi kuning, lalu pengilon ini dipuja). Dengan air putih (yang sudah masak), kembang segar, buah-buahan.

Saat membaca:

  1. Cuci tanagan, membakar dupa, menjura
  2. bacalah :

“Dengan sujud mempersilakan “Ta Pai San Kai Fu Mu” sebanyak 3 kali.

  1. bacalah sekali :

“Semua Ju Lai yang mahaluhur yang berubah menjadi Thien Mu. Pai San Kai nan Mahawibawa dan Maha Mulia”, lalu sujud.

  1. Bacalah :

“Hung Cing Kang Ting S Ta We Shen Mu, Ji Jien Sou Shen Mu, Jien Mien Shen Mu, Pai Jien Wan Yen Shen Mu, Pu Erl Ce Yan, Ji Cung Siang Cing Kang Gwan Kwan Ta Shen Mu, Cu Cai San Cie Cung Wei, mohon perkenankanlah hamba (sebutkan nama mu sendiri) dan semua umat, makhluk yang tak berwujud, hantu yang berwujud dan segala malapetaka, terhimpas bersih. Dengan mendapatkan perlindungan Sang Buddha dan Po Sat (Bodhisatva), semua permohonan akan terkabulkan, mendapatkan rejeki, keamanan dan ketentraman serta kesehatan”. Cukup baca sekali saja.

  1. Bacalah dalam hatimu sebanyak 108 kali mantra dibawah ini:

“Oom, Sa Erl Wa, Ta Tha Cia Ta, Unika, Setatapace, Hung Phe, Hung Mama, Hung Hi, So Ha”.

  1. Bacalah :

“Semoga semua kebaktian yang telah dibaca, secepatnya kenan Pai San Kai Mu membawa umatnya yang terhindar dari segala malapetaka”. Bersujud 3 kali.

Biasanya jika tidak berada dirumah, atau berada diatas kapal/ mobil, atau ketika lagi bekerja ataupun lagi berpiknik, juga boleh membaca. Asalkan ketika membaca dalam hatinya membayangkan wajah Fu Mud an membaca: “Dengan sujud mempersilakan Ta Pai San Kai Fu Mu” sebanyak 3 kali, kemudian baru membaca mantra Ta Pai San Kai Fu Mu tersebut dalam hati dengan jumlah tanpa batasan.

Membaca mantra ini harus penuh dengan ketekunan dan kepercayaan, tiap hari membacanya, lambat laun dengan sendirinya akan timbul kekuatan yang tiada batasnya. Penulis pernah mengajarkan mantra ini kepada banyak orang. Ada orang yang sakit lama tidak juga sembuh, setelah membaca mantra ini selama 2 bulan, diobati oleh seorang dokter lantas menjadi sembuh. Ada sebuah keluarga dimana semua anggota keluarganya bergiliran jatuh sakit, setengah tahun tidak henti-hentinya, setelah diperiksa baru diketahui bahwa dirumahnya ada makhluk halus yang lagi menggangu. Setelah mengajar membaca mantra ½ bulan, sekeluarganya tidak sakit lagi. Ada orang yang pekerjaannya tidak lancer, rekan sekerjanya tidak rukun, membaca mantra 7 hari berubah menjadi baik. Ada orang yang mendapat permusuhan dari orang lain, takut dibalas dendam, semangat nya menjadi turun, keluarganya mewakilinya membaca mantra, setiap hari minum air mantra dan memercikkan air mantra kearah musuh, akhirnya tidak ada masalah.

Aliran Mi Cung dalam agama Buddha mempunyai Ta Pai San Kai Fu Mu melindungi Negara, memusnahkan bencana”. Mengumpulkan banyak orang mendirikan panggung mengadakan kebaktian 7 hari, 21 hari atau 49 hari, ini bias membuat sebuah daerah tidak akan mengalami berbagai bencana seperti: bencana angina, bencana banjir, bencana api, bencana gempa, wabah penyakiut, peperangan, dll: menjadikan Negara dan rakyatnya aman tentram.

Ta Pai San Kai Fu Mu mempunyai kekuatan dan kewelas asihan yang tidak dapat diduga.

Lingkaran Mantra Ta Pai San Kai Fu Mu

Mantra Ta Pai San Kai Fu Mu:

Oom, Sa Erl Wa, T Tha Cia Ta, Unika, Setatapace, Hung Phe, Hung Mama, Hung Ni, So Ha.

Lama besar ditibet Cing Kang Sang Se Ni Nha Pu Gung Hay mengatakan: “Dengan memperdalam ajaran Ta Pai San Kai Fu Mu akan mendapatkan wibawa dan kesaktian yang tak terhingga. Bila bertemu dengan musuh besar ia akan terkejut mundur. Segala jin dan pendeta-pendeta jahat pasti akan takluk, dan akan menyirnakan mantra-mantra dari dukun-dukun jahat, bagi yang melakukan nya walaupun tidak sangat panjang usianya namun ia takkan berumur pendek dan mati muda serta terhindar dari mara bahaya, juga dapat menghindari segala bencana banjir, kebakaran, angina topan, amukan senjata tajam, kelaparan, alam dan penjara serta lain-lainnya. Pula dapat terhindar dari kesetanan, gila, minum racun serta penyakit yang sering lupa. Ya katakanlah 1084 macam bencana atau mimpi buruk pada malam hari, mendengar suara atau melihat momok, dll. Semua permohonan pasti terkabul. Bagi yang mendalami atau membaca Keng ini akan sering mendapatk kasih dan perlindungan para Dewa serta mendapat karunianya. Bila menuliskan lalu membaca Keng ini atau memujanya, pahalanya adalah sama. Pada pokoknya mendalami ajaran Ta Pai San Kai Fu MU dan menempelkan Hu Ta Pai San Kai Fu Mu diatas pintu atau dalam rumha, akan mendapatkan wibawa dan kesaktian yang tak terhingga. Untuk penjelasan akan kebesaran mantra ini sebaiknya anda membaca Keng Ta Pai San Kai Cung Tze Do Lo NI yang diterjemahkan oleh Yuen Cin Pien She dan Cen Tze Su Hu.

KISAH NYATA TENTANG KEMANJURAN TA PAI SAN KAI FU MU

Sebenarnya buku ini dalam memperkenalkan kehebatan Ta Pai San Kai Fu Musudah berakhir dan siap untuk dicetak. Tetapi tidak diduga banyak diantara teman dan langgananku yang setelah membaca Keng itu menjumpai berbagai hal yang luar biasa, fakta-fakta yang menggetarkan kalbu ini mendorong aku menulis beberapa kisah nyata tentang kemanjurannya, agar orang-orang dalam dunia ini mengerti kewelas-asihan Sang Buddha dan pahala besar beliau dalam menyeberangkan umatnya untuk lepas dari laut penderitaan.

Tetapi, karena urusanku sangat banyak dak tak ada waktu luang, akhirnya tertunda lagi 3 bulan. Barulah setelah musim semi tahun 1982, aku memilih 6 buah kisah nyat diantara sekian banyak kasus sebagai contoh yang dapat mewakili berbagai kasus. Aku berharap teman-teman yang telah membaca buku ini, akan terketuk hatinya dan merenungkan lebih dalam agar dengan sungguh-sungguh mempelajari KEBENARAN tentang melepaskan penderitaan hidup manusia.

  1. Anak yang matanya berkedip-kedip

Ada seorang teman yang biasanya bertindak sebagai skenario dalam kesenian, orangnya jujur, waktu pertama kali melihat orang-orang memuja Buddha, ia menertawai mereka tahyul, kemudian dengan bertambahnya penjelasan hidup dan pergaulan yang kian luas, tahulah ia bahwa agama Buddha bukanlah munafik dan palsu. Dan pula akhir-akhir ini terjadi sebuah peristiwa yang lebih meyakinkannya pada agama Buddha.

Tahun 1983 sekitar bulan Mei ia pindah kesebuah rumah baru yang terletak dilereng gununh Tze Yin. Sebulan kemudian ia mendapatkan bahwa anaknya yang berusia 6 tahun sering mengedipkan-negdipkan matanya. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Sebenarnya putranya itu memang tampan dan cerdas, pikirnya tak mengapalah hanya berkedip-kedipkan mata. Tetapi, lambat laun ada hal-hal yang kurang beres, putranya dimalam hari sering bermimpi buruk, terkadang berteriak, sehingga anak itu nampaknya kurang gesit dan matanya kian sering mengerdip, lalu dibawanya ke dokter. Hasilnya nihil, sebab matanya tidak merah, tidak gatal dan tidak bengkak.

Tuan Liang mulai menduga bahwa Hong Sui rumah tersebut ada masalah. Dengan dikenalkan oleh teman ia menemukan, secara garis besar ia menceritakan pada ku tentang keadaan putranya. Hatiku sudah dapat menduga. Tepat pada waktu yang disepakati, aku mengunjungi rumah barunya. Setelah kuamati dan kuperhatikan kupastikan bahwa sebelum ia memasuki rumah barunya, sudah ada “Roh Jahat” yang telah menempatinya. Berbagai macam keadaan putra nya, mengedip-ngedipkan mata, terkejut dalam mimpi ketika tidur malamnya, kesemuanya adalah ulah roh jahat itu, amksudnya agar dapat mengacaukan hati putranya.

Tuang Liang berkata bahwa pada tingkatan tertentu iapun telah menduganya, namun tidak berani memastikan nya. Kini jelaslah dapat dipastikan “Makhluk itu”, lalu bagaimana sebaiknya? Kujawab bahwa akan kuusahakan dapat membantunya. Tiba dirumah kubacakan “Mantra Ta Pei” pada air, aku mohon diperkuan bantuan Nur Buddha, disertai beberapa cara kesaktian. Lalu kusuru Tuan Liang memberi minum air itu pada putranya setelah ia tiba dirumah. Seminggu kemudian, tuan Liang menelponku, katanya ternyata berhasil. Putranya sudah tidak lagi mengerdipkan matanya lagi, semangatnya membaik dan tidak pula bermimpi buruk. Kukatakan bahwa masih perlu terus dipantau dan diamati, bilamana tidak ada lagi persoalan, ia tidak perlu menelponku lagi.

Setelah 3 bulan kemudian, tuan Liang mengajakku untuk bertemu muka lagi. Ketika bertemu muka, ia langsung mengatakan bahwa makhluk itu datang lagi dan anaknya mengedip-ngedipkan mata lagi. Kutanyakan padanya, ya seperti dahululah. Lalu kubacakan mantra Ta Pei dan kuberikan air penawarnya, serta memesan agar ia mengerjakan seperti sedia kala. Tak lama kemudian ia menelponku dan katanya semua nya telah beres. Namun lewat dua bulan, tuan Liang memberitahukan makhluk itu datang lagi dan putra nya mengerdip-ngerdipkan mata lagi, kali ini mata agak memerah, tak sama dengan yang dahulu. Benar-benar aneh, kusuru tuang Liang membawanya kedokter mata, ternyata sudah dilakukan dan dokter menganggapnya infeksi dan memberikan antibiotic, tetapi hsilnya putranya lebih hebat mengerdipkan matanya.

Kupikir roh jahat ini tak akan sirna hanya dengan cara yang biasa, terpaska harus memohon Ta Pai San Kai Fu MU agar beliau melepaskan deritanya. Aku membeli sebuah kaca cermin bulat yang bertepi kuning, menyajikan bunga-bunga wangi serta buah-buah untuk upacara. Dengan sujud memohon gara Ta Pai San Kai Fu Mu idatas cermin itu, dengan penuh konsentrasi aku melukiskan sambil membca mantranya. Akupun membayangkan Nur Ta Pai San Kai Fu Mu yang turun dari altar dan masuk kedalam cermin bulat. Selesai kulukis, maka aku bukukan cap jari Tai Pai San Kai Fu MU pada cermin itu. Demikian lah sebuah cermin yang sangat sakti dari Ta Pai San Kai Fu Mu selesai dibuat.

Aku menyerahkan cermin tiu pada tuan Liang dan mengajarkannya membaca mantra Ta Pai San Kai Fu Mu, setiap malam membakar Hio memuja cermin itu, dihadapan cermin itu diletakkan setengah cangkir air matang, dengan sujud hati membaca mantra itu sebanyak 108 lebih dan ditujukan pada air itu, kemudian diminumkan pada putranya. Hasil kali ini sangat baik, tuan Liang hanya melakukan 2 malam, ternyata putra nya telah sembuh. Setelah kuamati lagi beberapa waktu, semuanya berjalan lancer. Tetapi kusuru ia tiap malam melakukannya dan air mantranya dibagikan kepada semua anggota keluarga, juga dapat mengambil setengah gelas air minum mantra itu untuk disiramkan keseluruh rumah.

Mantra Ta Pai San Kai Fu Mu mempunyai daya kesaktian yang tidak dapat dibayangkan. Bukan saja dapat menyirnakan semua jin dan musuh-musuh, tetapi dapat menghapus semua bencana dan bahaya, merubah nasib buruk menjadi nasib baik, sebab dikala membaca mantra Ta Pai San Kai Fu Mu, akan datang banyak Dewa baik yang datang melindungi. Orang yang dapat dengan tekun membaca mantra Ta Pai San Kai Fu Mu adalah orang yang mempunyai rejeki. Dengan kekuatan Buddhanya Ta Pai San Kai Fu Mu memberkahi orang yang membaca mantranya. Karena itu bagi orang yang setiap malam mensujudinya sangatlah besar pahalanya.

Bila tuan Liang dapat setiap malam membaca mantra itu, ia adalah orang yang mujur, penuh daya dan tekat teguh, selama hidupnya sangatlah bermanfaat. Hingga kini setahun sudah putranya tidak lagi terganggu. Anak yang sejak kecil telah minum air mantra Ta Pai San Kai Fu Mu, selama hidupnya akan sehat dan beruntung nasibnya.

  1. Keinginan hatinya terwujud seluruhnya

Ada seorang nona Hu, dia adalah kakak seperguruan (Su Ci) penulis, usianya masih muda. Selesai SLTA segera ia bekerja di pemerintahan. Namun tubuhnya amat lemah, setiap hari rasanya tidak pernah sehat, hal ini disebabkan karena ia rajin membina mental dan pada malam hari harus melakukan kebaktian agama Buddha. Yang dirasakan sangat mengganggu ialah rumahnya terletak di Sa Thien sedangkan tempat kerjanya di Cung Hwan. Setiap pagi harus bangun pagi jam 7.00 secara terburu-buru lalu mengerjar bus dan harus antri (sebab rumahnya jauh dari stasiun kereta api), kemudian transit kereta bawah tanah ke Cung Hwan. Disebabkan waktu berangkat dan pulang kerja kebetulan saat jam sibuk lalu lintas, orang-orang berjubel-jubel, pula harus transit dengan kendaraan lain, setiap hari pulang pergi telah menghabiskan waktu tak kurang dari 2 jam, ini sangat lah meletihkan.

Ibunya sangat menyanyanginya, sering memohon pada Buddha, mengharap agar ía dapat pindah kerja di pemerintahan daerah Sa Thien saja, dengan demikian dapat mengurangi kepenatan dalam kendaraan, juga dapat menghemat waktu 2 jam. Bila. hal ini dapat terwujud, maka alangkah baiknya. Tetapi pekerjaan dalam pemerintahan bukan Se­kehendakmu akan pindah ke mana lalu kemana, banyak hal yang perlu dipertimbangkan, misalnya kepentingan pemda sendiri, tepat tidaknya soal personalia, dll. Oleh karena itu, sungguhpun ía telah mengajukan permohonan untuk pindah kerja, tetapi lama sudah tidak ada balasan­nya. Jadi setiap hari masih tetap harus menderita kepenatan duduk dalam kendaraan.
Hingga pada suatu hari, kedua ibu dan anak datang ke tempatku, kebetulan ada waktu luang sedikit, datanglah ilhamku lalu kukatakan:
“Akan kuajarkan mantra “Ta Pai San Kai Fu Mu”, hal ini berguna untuk kalian” kebetulan mereka sedang mujur lalu segera belajar. Mantra ini sangat praktis, begitu belajar segera mereka bisa. Kuajarkan pula mereka memantrai “air” kemudian menyuruhnya minum. Keluarganya adalah keluarga yang sangat taat pada agama Buddha, setiap Keng Buddha yang didapat, akan mereka baca dengan hikmat dan seksama. Kuanjurkan pula agar mereka baik dalam perjalanan, duduk atau tidur, begitu ada waktu segera membaca mantra Ta Pai San Kai Fu Mu. ini mereka lakukan sesuai dengan petunjuk.

Kira-kira sebulan kemudian, datanglah berita baik, permohonan mutasinya diluluskan. Sesuai dengan keinginannya ia dipindah ke Sa Thien, lokasinya hanya 2 menit jalan kaki dan rumahnya. Setelah mutasi ini, nona Hu bekerja penuh dengan kegembiraan, hatinya lebih riang, tubuhnya agak gemuk dan sehat. Betapa hebat kekuatan Ta Pai San Kai Fu Mu, betapa tinggi kemoralannya.

Untuk memperbaiki nasib buruk, agar “Apa yang diinginkan terwujud”, bahkan untuk menjadi Buddha, kesemuanya hanya tergan­tung dan keyakinan dan tekad pada dirimu. Harus dengan sungguh­-sungguh melaksanakan, tak cukup hanya berkata-kata di mulut saja. Banyak orang yang ingin memperbaiki nasib buruknya dikala usaha atau kerjanya tak lancar, hatinya percaya tentang Hukum Karma, yakin dan percaya pula akan ajaran Buddha. Namun ternyata tidak dapat melaksanakan, tak cukup hanya dapat memikir: “Andaikata ada orang yang mau bantu mengerjakan, atau membuatkan Hu atau membacakan Mantra, membantuku mewujudkan keinginanku, sa­ngatlah baik. Setelah urusan usai nanti, pasti akan kuberikan imbal­annya”. Ada pula yang berpikir:” Usahaku buruk, pikiranku butek, untuk mengerjakan sendiri tak ada gairah, mana mungkin?” Ada pula orang yang tatkala usahanya lancar, menyuruhnya membaca Keng Buddha, jawabnya:” Segala usahaku lancar, masih perlukah itu? Kini aku sangat sibuk, lain kali saja”.

Nanti bila usahanya mandek, barulah ia mencariku, kuanjurkan membaca Keng Buddha, tetapi jawabnya: “Kini aku sedang menganggur, makanpun rasanya segan, tidur tidak tenang, tak ada gairah, sebaiknya anda saja yang membantu aku membaca”. Orang tersebut diatas benar-benar membuang waktu saja, sungguh sayang. Kasus nona Hu dapat dijadikan sebagai cermin bagi mereka.

  1. “IBU, MENGAPA HARI INI KAMAR MENJADI TERANG?”

Ny. Feng adalah seorang Kristiani, iapun lama mengenalku. Akhir-akhir ini nasibnya kurang baik, dia menghadapi peristiwa-­peristiwa yang merupakan pukulan-pukulan beruntun, hal yang sulit diuraikan.Mulanya ialah suaminya yang menyeleweng, melupakannya dan anak-anaknya. Pukulan ini masih dapat ia tahan.

Dengan sedikit uang tabungannya ia kerja sama dengan orang lain membuka sebuah boutig, ía berharap hidupnya ada sandaran, dapat mendidik anak-anaknya menjadi manusia yang berguna. Tak disangkanya teman wanita yang kongsi dengannya menyandarkan sedikit kekuasaan yang ada pada suaminya, serta ny. Feng tidak mengerti bahasa Inggris, seorang janda yang lemah, mereka berkomplot dan memperdayakannya dalam pasal­-pasal kontrak kerjasamanya, lalu mengangkangi semua boutig itu.

Kedua pukulan ini telah memutuskannya untuk bunuh diri, tetapi akhirnya ia tegar untuk meneruskan kehidupan ini. Lalu ia berusaha sekuat tenaga, mencari jalan untuk meminta keadilan, namun dise­babkan lawannya berkuasa dan sebelumnya telah memasang jerat yang sangat rapi, lagi pula tak ada orang yang berani membantu berperkara, ia menjadi sangat terjepit, ibarat meminta pada Bumi dan Langit tak ada tanggapan sama sekali.

Pernah ia mencariku untuk meramalkan nasibnya, ternyata me­mang sangat buruk. Bagaimana baiknya? Aku menganjurkannya memohon pada Po Sat dan membaca Keng agama Buddha, namun ia mengatakan bahwa seorang Nasrani tidak menyembah Buddha, Den­gan sabar kujelaskan padanya “Kristus, Hutco, Tao Cu. bagi mereka diatas langit itu tidak ada pintu pemisahan, yang memisahkan pintu satu agama dengan agama lain ialah Egoisme manusia sendiri. Jika diantara para Kauw Cu (pimpinan agama) terdapat pintu pemisahan diatas sana, bukankah antara mereka dapat berkelahi?”. Setelah kuuraikan agak panjang soal-soal semacam ini barulah ia ragu-ragu. Kunasehati membaca Keng Kwan Se Im Ceng Cing dan Chi Fu Mye Cue Cen Cing, ía menyanggupinya. Namun disebabkan rintangan yang sangat berat dan belum waktunya menerima karunia, Keng tidak dibaca dengan tekun, tetapi hanya pada “waktu ada luang”, jadi dalam setahun tidak seberapa kali jumlahnya, tentu belumlah berhasil.

Selama ini ia dan kedua anaknya sering sakit bergiliran. Anaknya yang kecil terjatuh dan tempat yang tinggi sehingga patah tulang lengannya dan dokterpun menyambung kurang tepat. Putri yang sulung terserang flu beruntun berbulan-bulan tidak sembuh. Tidak sedikit biaya dokter yang dikeluarkan, benar-benar suram perjalanan hidupnya. Ada lagi suatu hal yang aneh ialah kedua anaknya sela­manya tidak berani tidur dalam kamar tidur, lebih suka tidur di ruang tamu, jika ditanya mereka akan menjawab: “Dalam kamar itu gelap sekali dan ada hantu yang selalu mengikutiku, sangat ngeri”. Padahal dalam kamar ada jendela dan lampu, penerangannya sangat cukup, ny. Feng sering memarahi putrinya yang baru berusia 9 Tahun : “Anak kecil banyak menonton TV, bicara sembarangan”. Tetapi biarpun digusari anak ini tetap tidak berani tidur dalam kamar.

Kira-kira 3 bulan kemudian, Ny. Feng datang lagi mencariku sambil menceriterakan keadaannya. Ia minta kuramal nasibnya, hasilnya tetaplah sangat buruk. Dalam keadaan mi kuminta Ia agar membaca Keng, mungkin karena nasehatku yang tidak henti-hentinya, akhirnya ia menyanggupi akan melakukan dengan rajin dan sungguh­-sungguh. Melihat keadaannya aku siap mengajarkannya Keng Ta Pai San Kai Fu Mu, tetapi kuminta agar ia membaca lebih dahulu Keng Kao Wang Kwan Se Im Cen Cing sebanyak 1000 kali, barulah menemui aku lagi. Inipun ia sanggupi. Lalu kubeli sebuah cermin bulat yang bertepi kuning, sesuai dengan cara dan upacaranya telah kubuatkan cermin yang bermantra Ta Pai San Kai Fu Mu. Tatkala ia datang aku menyerahkan cermin ini padanya berikut kaset mantranya dan kuajar­kan pula memantrai air. Setelah selesai ia membaca mantranya, air itu diminumkan pada seluruh anggota keluarga dan disiramkan juga pada rumah, demikian pesanku barulah ia pulang.

Hari ketiga ia menelponku, katanya: “Tuan Liu, cerminmu sangat hebat, di malam pertama aku telah melihat hasilnya”. Kuminta ía menceritakan lebih lanjut. Katanya setelah membawa pulang cermin itu, diletakkannya pada meja kamar untuk dipuja, lalu ia mulai belajar membaca, dan dengan cepat ia sudah bisa, kemudian dimulai meman­trai air yang pertama, selesai yang pertama ini, anak-anaknya belum pulang sekolah. Tatkala kedua anaknya tiba di rumah, setelah mele­takkan tas sekolah dan memasuki kamarnya, mereka dengar suara keras bertanya: “Ibu, mengapa hari ini kamar terang benderang?” Sejak hari itu, setiap malam anaknya lebih senang tidur di dalam kamar. Katanya bahwa kini yakinlah dia dan penuh percaya, Se­lanjutnya akan terus membaca dengan tekun dan baik. Aku memberi dorongan bahwa ini barulah permulaan saja, untuk memperbaiki nasib yang buruk, haruslah “Dilakukan” dengan sepenuh hati dan seksama. Buddha adalah Maha Pengasih, jika anda memintanya dengan penuh kepercayaan, kejujuran dan tekad yang kuat, pastilah ia akan datang menolong anda menyeberangi lautan penderitaan. Jika ia tidak datang menolong anda terbebas dan kesulitan bukanlah Buddha namanya.

Keterangan: menurut ny. Feng kemudian, ia telah menyadari bahwa perjalanan hidupnya yang demikian buruk adalah karmanya. Ia teringat ketika masih kecil, ia tinggal di luar negeri bersama tacinya berdua. Mengikuti petunjuk tetangganya, mereka sering menangkap kucing-kucing kecil dan dimasukkan ke dalam keranjang lalu dibe­namkan di dalam air hingga mati. Ya banyak jiwa yang telah dibunuh, inilah dosa besar yang telah dibuatnya, yang berakibatkan kini nasibnya sangat buruk, penuh dengan rintangan dan siksaan. Kini kakak perempuannya masih ada di luar negeri, ternyata nasibnya jauh lebih buruk dari padanya, tak hanya perkawinannya senasib dengan­nya (tidak bahagia dan cerai), lebih celaka lagi menderita penyakit saraf dan jiwa. Hal ini sangatlah menggangu seluruh anggota keluarga, tak ada lagi ketenangan dalam rumah itu

Ny. Feng memikirkan pula adik laki-lakinya yang dimasa mu­danya sering membunuh burung-burung selama beberapa tahun, sangat beratlah dosanya. Akhir-akhir mi nasibnya mulai memburuk, ia belajar di luar negeri. Sekali dikala lagi menyetir mobil, terjadilah peristiwa yang aneh. Dalam keadaan yang tidak terlihat, ia menabrak hingga luka berat seorang anak kecil. Selanjutnya ia frustasi, tidak ada gairah sama sekali, pelajarannya mundur banyak, ujiannya gagal, mungkin hari depannya akan lebih suram. Ny. Feng menceritakan bahwa setelah ia membaca buku Buddha, sadarlah ia akan Hukum Karma. Dengan menghubungkan nasib kakak dan adiknya kian jelaslah baginya bahwa sebab dan akibatnya sendiri itulah yang menguasai seluruh perjalanan hidupnya.

Ia merasa dirinya sangat beruntung, tidak hanya telah mengerti hal ini (tidak lagi menyalahi orang lain), iapun mendapatkan kesempatan untuk mem­perbaiki nasibnya sendiri, berkat membaca buku-buku dan Keng Buddha. Yang disayangkannya ialah keluarganya termasuk kedua orangtuanya tidak percaya pada Buddha, sehingga dia hanya bisa menghela napas panjang tanpa dapat membantu kakak dan adiknya yang bernasib buruk. Ayahnya tinggal di Hong Kong, ia menderita migrain tanpa tersembuhkan oleh dokter. Pernah ia mencoba mem­bacakan mantra Ta Pai San Kai Fu Mu untuk memohon penyembuhan bagi sakit kepala ayahnya, demikianlah ía lakukan beberapa hari, lalu ia menelpon ayahnya untuk menanya bagaimana dengan penyakit kepalanya, ayahnya menjawab bahwa entah kenapa telah beberapa hari penyakit kepalanya tidak kumat lagi. Hal ini sangat menggembi­rakan ny. Feng, kian percayalah ia dan tiap hari ia membaca beratus kali mantra, ia bertekad membaca seumur hidupnya. Jadi ny. Feng adalah orang yang beruntung.

Ini sebenarnya hal yang sangat sederhana, orang yang telah membunuh, roh-roh itu akan mendendamnya, selalu mengikutinya atau melekat padanya dan melakukan pembalasan dengan berbagai macam cara. Roh-roh yang dendam ini dapat membuat bangkrut musuhnya, atau ia terpidana hingga dipenjarakan, atau jatuh marta­bat dan namanya, atau perkawinannya gagal atau tertubruk mobil atau dirampok maupun diperkosa, mungkin pula menderita penyakit yang aneh dan tidak tersembuhkan atau tidak akur dengan sanak saudara, dll. Kesemuanya ini adalah pembalasan yang dilakukan oleh roh-roh yang mendendamnya.

Tidak sedikit wanita yang menggugurkan kandungannya, ia akan menerima berbagai pembalasan dan roh-roh janin itu, kian banyak menggugurkan kian banyak pula pembalasannya. Cara yang terbaik untuk mengurangi dosa-dosa dan pembalasan roh-roh yang dendam ialah membaca Keng Buddha, dengan Nur yang bermoral tinggi dan Sang Buddha, dapatlah menyirnakan roh-roh pendendam, terutama dendam kesumat mereka.

Betapa harus dikasihani bagi orang-orang yang tidak mengerti Buddha, orang yang tidak percaya ajaran Buddha, orang yang tidak kenal Hukum Karma, atau orang yang mengerti tetapi tidak mau melakukan ibadahnya.

  1. BARANG ANTIK YANG MEMUSINGKAN KEPALA

Ny. Huang yang tinggal di lereng pegunungan, ia amat kaya. Dia dan suaminya merupakan orang terhormat di Hong Kong. Yang sulit ditiru ialah mereka berdua gemar beramal, berbagai organisasi sosial disitu mendapatkan bantuan mereka, selama puluhan tahun mereka selalu beramal tanpa mau ketinggalan sama orang lain.

Namun 2 atau 3 tahun akhir-akhir ini dalam rumahnya telah terjadi beberapa peristiwa besar. Kedua suami istri ini secara bergiliran masuk rumah sakit dan dioperasi besar, bahkan suaminya harus dibuang sebuah ginjalnya. Ada seorang anak perempuannya bertempat tinggal tidak jauh darinya, waktu ia mengendarai mobil pergi menengok temannya, mobilnya diparkirkan pada sebuah lapangan yang agak miring. Tatkala ia baru saja meninggalkan mobil itu, tiba-tiba mobil kosong itu berjalan sendiri, sewaktu putrinya membuka pintu mobil hendak mengeremnya, bahkan terseret hingga beberapa meter dan melukai kaki tangannya. Sedangkan mobil kosong itu terus meluncur dan melukai lagi dua orang. Sejak itu watak putrinya berubah sama sekali, dahulu penyabar dan halus, sehingga mendapat julukan “nona senyum manis”, kini menjadi pemberang dan sering memaki orang, bagaikan berubah menjadi dua orang. Lebih menyedihkan lagi ialah putrinya yang dahulu sangat berbakti dan baik padanya, kini menjadi sering memakinya dan membencinya, hal ini benar-benar tidak habis dipikir. Selain itu, ny. Huang mempunyai penyakit pusing kepala. Baik dalam rumah maupun diluar rumah kepalanya tetap terasa pusing, tidak sedikit dokter-dokter ahli yang memeriksanya namun tidak bisa mendapatkan penyebabnya dan hanya dapat mengatakan ia “saraf lemah”, ratusan macam obat tidak berhasil menyembuhkannya.

Dengan melalui perantaraan teman ia menemuiku. Ia menduga Hong Sui rumahnya kurang baik, namun ia telah lebih 20 tahun menempatinya, dan dahulu tidak pernah terjadi sesuatu. Sebelumnya iapun telah mengundang beberapa ahli Hong Sui untuk melihat rumahnya, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Setelah kuhitung-hitung ramalan mengatakan bahwa berbagai peristiwa yang timbul disebabkan oleh adanya gangguan semacam “roh jahat”. Secara garis besar kujelaskan padanya, sedikitpun ia tidak merasa aneh. sebab sudah agak lama ia menduganya. Seharusnya orang seperti ny. Huang yang banyak beramal tentunya dilindungi oleh Dewa baik, mengapa masih ada roh jahat yang mengganggunya? Hal ini meru­pakan suatu teka-teki dalam hatiku, namun belum segera dapat kupecahkan.

Tak lama kemudian, ny. Huang mengundangku melihat rumahnya. Memang aku ingin coba melihat rumahnya sehingga aku segera menyanggupinya. Tepat pada waktu yang disepakati, kubawa sebuah cermin yang telah dimantrai beserta dengan istriku menumpangi mobilnya. Setelah tiba di rumahnya, kami turun dari mobil. Belum lagi menaiki lift istriku mulai merasa pusing kepala, sedang aku sendiri setelah memasuki rumahnya kira-kira setengah jam kemudian mulai pusing sedikit, saat ini istriku sudah sangat pusing.

Hal yang paling menyolok dalam rumahnya ialah dua ruangan besarnya penuh dengan barang antik, berbagai macam perhiasan dan ukiran dan batu giok kraton-kraton kuno memenuhi almari dan sangat menarik. Ny. Huang memberitahukan bahwa suaminya sangat menyukai barang-barang antik. Ia adalah seorang pengumpul barang antik, se­hingga begitu banyaklah barang antiknya. Tetapi ia sendiri sangat mencurigai dua buah barang antik, bukan mencurigai keasliannya melainkan menduga kedua barang itu membawa “roh jahat”, sebab sering merasakan bahwa kedua barang antik itu membuatnya tanpa terasa dingin berdiri bulu romanya, seakan-akan ada bayangan yang selalu mengancam hatinya. Ditunjukkannya kedua barang antik itu padaku, kudekati kedua barang itu, diantaranya terdapat sebuah barang keramik yang tingginya 1 meter dengan bentuk yang kurang menarik. Ia disimpan di pojok dan didepannya dikeilingi oleh beberapa barang antik yang lebih besar, barang antik tersebut memberikan kesan kepadaku agak istimewa. Aku memastikan bahwa inilah barang yang mempunyai keanehan, roh jahat justru bersembunyi didalamnya dan roh jahat ini bukanlah roh yang biasa, tetapi termasuk roh yang agak ganas. Kemungkinan barang antik ini adalah benda kesayangan­nya sebelum ia mati, kemudian setelah ia mati dikuburkan bersa­manya. Lalu digali oleh orang dari kuburnya, roh ini tidak sirna dan tidak rela, dengan rasa dendam melekat didalamnya, siapapun yang membelinya atau memilikinya pasti akan mendapatkan balas den­damnya, karena banyak peristiwa yang tidak diinginkan terjadi.

Orang yang banyak beramal sungguhpun dapat ditolong dari peristiwa-peristiwa yang buruk, namun tidak bisa terhindar dan pembalasan roh jahat itu, sebab inipun termasuk Hukum Karma. Karena anda telah merebut benda kesayangannya sewaktu ia masih hidup, sama halnya merampok hartanya. Apalagi benda ini didapatkan­nya dengan melalui penggalian kuburan orang lain (kemungkinan sewaktu lagi menggali telah menghancurkan tulang belulang almarhum), karenanya Ia mau membalas dendam. Menghadapi roh jahat penden­dam ini, sebaiknya mengundang tosu (pendeta) yang berilmu tinggi, dengan Ti Chang Wang Pu Sat Ta Tze Pei untuk melepaskannya dari keadaan sekarang. Pendeta harus mendoakannya agar rasa den­damnya sirna, agar ia mau menerima pelepasan atau pemilik benda sekarang membaca Ta Pai San Kai Fu Mu dalam jangka lama, sebab orang awam ilmunya rendah, harus tekun melakukan pelepasan perasaan dendam dalam waktu yang lama.

Setelah kuketahui keadaan barang antiknya, terasa tak mu­dahlah mengerjakannya, ingin membantunya namun belum pasti dapat tuntas. Yang paling mengecewakan ialah pemilik benda antik itu tidak tertarik pada “membaca Keng”. Jika menganjurkannya supaya dalam jangka panjang membaca mantra dan minum air yang telah diisi mantra, pastilah ditolak. Karenanya aku hanya dapat melakukan sedapat mungkin, lalu kuambil cermin Ta Pai San Kai Fu Mu, mengisi setengah cangkir air, memasang dupa, dengan hormat mengundang Ta Pai San Kai Fu Mu turun ke bumi, dan membuat persembahan sederhana, kemudian menghadap cangkir tadi aku mulai membacakan mantranya. Kira-kira setengah jam kemudian, kuberikan separuh dan air dalam cangkir pada semua anggota keluarga untuk diminum dan separuh lainnya kusiramkan pada seluruh rumah, terutama aku menyiramkan beberapa kali pada barang antik tersebut. Memang agak aneh, setelah air kusiramkan, istriku sudah tidak lagi pusing kepala, aku sendiripun entah sejak kapan tidak pusing kepala lagi.

Tetapi, urusannya tidaklah semudah itu selesai. Hari kedua setelah pulang ke rumah kepalaku mulai pening, lambat laun kian menghebat, seperti bergelombang, rasanya mual hendak muntah. Setelah kupikir dengan cermat, sadarlah aku bahwa roh jahat yang ada di rumah ny. Huang telah mengikuti aku pulang ke rumahku. Aku memastikan bahwa di pihak ny. Huang kini sudah tidak ada lagi masalah. Segera kusuruh istriku menelponnya, katanya setelah aku dan istniku pergi dari rumahnya, 80% penyakit kepalanya telah hilang. ini membuktikan dugaan tepat, roh itu pasti telah mengikutiku dan membuat aku pusing kepala berarti memberi ku tanda, hal ini lebih mudahlah.

Dengan perlahan-lahan aku mulai melakukan ibadah di depan altar Buddha. Setelah 2 jam membaca Keng, diantaranya tentu juga ada mantra Ta Pai San Kai Fu Mu, aku berharap semoga roh ini men­dapatkan Nur Buddha, dan dapat masuk ke sebuah lingkungan yang ía senangi. Keesokan hari setelah aku bangun, pusing kepalaku telah lenyap sama sekali.

  1. KEMANJURAN DOKTER

Ny. Wang yang beranak lima itu sekeluarga secara bergiliran jatuh sakit, jika bukan ini sakit kepala pasti yang itu demam, yang satu baru saja sembuh dan batuk-batuk, yang itu terkena flu. Begitulah berlangsung beberapa bulan dan telah menghabiskan tidak sedikit biaya ke dokter. Ia sendiri sudah agak lama menderita penyakit wanita, berbagai dokter dan tabib belum juga dapat menyembuhkannya. Akhirnya setelah minum resep yang diberikan seorang sinshe tua, agak mendingan namun terkadang kumat lagi, hal ini juga telah berjalan lama. Ia pun sering mengunjungi sinshe tua itu, biarpun tidak tuntas tetapi dapat untuk menahan sedikit derita.

Suatu hari ía menemuiku untuk dinujum, hasilnya menunjuk­kan bahwa ia pernah menggugurkan kandungan, jadi penyakitnya sulit disembuhkan, untung tidak sampai minta korban jiwanya. Hal ini kujelaskan padanya dan ia mengakuinya, lalu ía bertanya adakah jalan lain untuk menolongnya? Kujawab: “Bila anda mau dalam jangka waktu lama membaca Keng Buddha, ditambah melepaskan makhluk berjiwa, mungkin masih dapat ditolong”. Dengan sedih ia katakan bahwa ekonominya tidak baik, beban kehidupan berat dan untuk ke dokter saja telah menghabiskan banyak uang, tidak ada biaya untuk melepaskan makhluk berjiwa. Kukatakan:”Melepaskan makhluk hidup dan beramal, nilainya ada pada kehendak hati, bukan berapa uang yang dikeluarkan. Jika setiap hati anda menghemat 1 yen, dalam sebulan menabung 30 yen, satu tahun 360 yen, ini cukup banyak bukan? Ditambah biasanya tidak membunuh makhluk hidup. Tidak ada urusan yang sulit dalam dunia, yang penting harus ada tekad”. Ia mengakui bahwa kata-kataku beralasan, maka disanggupinya.

Kuajarkan pula ia membaca mantra Ta Pai San Kai Fu Mu dan minum air mantranya. Dengan senang hati ia belajar. Kulihat ia ber­sungguh-sungguh, lewat beberapa hari aku menyumbangkan sebuah cermin yang telah kuisi dengan mantra kepadanya untuk dipuja. Ia adalah seorang yang jujur, apa yang ia katakan pasti ia jalankan. Tiap ­hari membaca Keng, baik duduk, rebah, selalu menghafalkannya, tiap hari minum air Hu dan dibagikan pula pada seluruh anggota keluarga. Sungguh ajaib, seminggu kemudian kelima anak-anaknya tidak perlu lagi ke dokter, mereka semuanya telah sembuh. Ny. Wang sendiri tetap pergi berobat pada sinshe tua. Setengah bulan kemudian muncullah keajaiban, resep yang sama yang dibuat oleh sinshe tua itu, biasanya kadang-kadang berhasil dan juga terkadang tidak berhasil, kini jadi sangat manjur, hasilnya menjadi lebih baik.

Pada suatu hari ia mengantarkan uang untuk biaya pelepasan makhluk hidup, kulihat ada 300 yen lebih. Kutanyakan dari mana uang sebanyak itu, dengan tertawa ia rnenjawab:”Uang yang kuhemat tidak pergi ke dokter”. Kusuruh ia sendirii yang mengirimkan uang itu pada alamat “Majalah Bulanan Agama Buddha” untuk sebagai biaya pelepasan. Telah 5 bulan sudah, kini ny. Wang berwajah agak merah, hatinya riang. Menurut katanya seisi rumah tak ada yang sakit lagi, ekonominya lebih baik, juga nasib suaminyapun berubah baik, ya segalanya sudah kecukupan. Tidak ia sangka demikian baiknya Sang Buddha, kini setiap hari ia membaca Keng tanpa alpa. Benarlah bahwa tak ada urusan yang sulit dalam dunia asalkan ada tekad.

  1. KEWIBAWAAN MENAKLUKKAN KAWANAN MOMOK DAN SETAN

Aku mempunyai seorang Su Heng yang bermarga Khu. Telah beberapa tahun ia mempelajani Tao, telah berhasil menghubungkan titik Yen dan Tu, setahun yang lalu ia telah saudara dibaptis sebagai murid “Ling Sien Cen Fu Cung”, kami telah menjadi saudara sepergu­ruan. Dia dan istrinya memang berbakat, indera ke 6 istrinya lebih baik, sering dapat melihat dunia roh. Yang lebih istimewa, kedua suami istri ini masih muda dan lulus sebagai sarjana, keduanya adalah psikiater yang telah terdaftar di pemerintahan.

Sekitar bulan Juli tahun 1984, disebabkan karena tempat usahanya kurang luas, dan kebetulan tetangga dekatnya hendak menjual tempat usaha, lalu dibelinya. Ternyata tempat ini dahulu sebuah rumah tinggal, entah kenapa telah berganti penghuni beberapa kali, tetapi tidak ada yang bisa tinggal lama dengan cepat tiba-tiba mereka pindah. Su Hengku menilai harganya tidak mahal dan cocok baginya, 1alu memberikan uang muka, ia mengambil keputusan untuk membelinya. Siapa tahu begitu keputusan diambil, belum lagi ditanda­tangani di muka notaris, telah terjadi serentetan peristiwa yang tidak menguntungkan. Hanya dalam waktu 5 hari saja, tiba-tiba telah terjadi bermacam-macam perkara yang menyulitkan. Tanpa sesuatu sebab ia dimaki-maki orang, pekerjaan yang baik tadinya mendadak dapat terjadi kesalahan, keluar berjalan-jalanpun dimana saja juga menjumpai hambatan. Perasaan hatinya yang tenang mendadak berubah menjadi berang, sampai ia sendiri tidak tahu apa sebabnya. Malam hari tidur tidak tenang. Pokoknya macam-macam hal seperti itulah, seolah-olah akan datang mara bahaya.

Khu Suheng mencariku untuk menujum dirinya. Setelah kude­ngarkan ceritanya: “Tak perlu dinujum lagi, dalam tempat yang baru itu ada roh jahatnya” kataku. “Mengapa ia harus berbuat demikian ter­hadap diriku?”. “Oh, .itu mudah dijelaskan, waktu masih hidup ia pastilah pemilik rumah itu, setelah meninggal ia masih merindukan harta peninggalan tersebut, karenanya ia tetap bermukim disitu. Ia pun tidak memperkenankan orang lain memasuki rumah tersebut. Karena itu beberapa penghuni yang terdahulupun merasakan berbagai gangguan yang menyebabkan mereka pindah, ini sebenarnya telah diusirnya. Kini ia mengetahui bahwa anda hendak membeli rumah itu, maka dengan sekuat tenaga dan cara ia menghalangimu. Untung anda adalah seorang pertapa, hingga tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mengganggu yang lebih hebat. Jika tidak pastilah berbahaya”. Seketika sadarlah Khu Suheng dan ia minta bantuanku. Kuminta ia segera membeli sebuah cermin bulat yang bertepi kuning, setelah 2 hari nanti ía baru membawanya pulang.

Dalam malam yang sunyi, didepan altar Buddha aku menger­jakannya. Dengan sujud kumohon agar Buddha turun ke dunia, juga kumengundang Ta Pai San Kai Fu Mu serta guru Lien Sien Ta Se datang. Kumohon para Pengasih ini memberikan aku kekuatan dan kesaktian, mohon diberikan Nur Buddha, agar menyirnakan roh jahat yang belum mau sadar beserta rasa dendamnya dan bawa ia pergi ke tempat yang indah, jangan bertempat tinggal di rumah itu. Begitulah sesuai dengan tata upacara, aku telah menyelesaikan sebuah cermin yang berman­trakan Ta Pai San Kai Fu Mu. Disamping itu aku telah membuat pula dua belas Hu yang berhuruf Pali, satu demi satu kuhabiskan waktu 2 jam untuk menyelesaikannya.

Hari kedua Khu Suheng telah datang, ia memberitahuku: “Sete­lah anda terangkan, kami dalam dua hari ini mengamat-amati dengan cermat, ternyata memang terdapat roh jahat dalam rumah itu dan tidak hanya satu, istriku bilang sedikitnya ada 5 sampai 6. Berdasarkan perasaan inderanya jelaslah bahwa bukan roh yang baik”.

Aku tahu bahwa Khu Suheng dan istrinya mempunyai indera mata Bathin yang kuat, ini tentulah bukan kata kosong, kuserahkan cermin itu padanya dan kukatakan:”Cobalah, seharusnya berhasil” kuajarkan pula cara-caranya.
Seminggu kemudian dia datang dan sambil berseri-seri, akupun tertawa dan bertanya: “Bagaimana ?“. “Benar ajaib, semuanya telah beres, hasilnya diluar dugaan, sangat baik”. Ia melukiskan keadaan waktu itu:”Malam itu juga kukerjakan, semua berlangsung sesuai dengan acara, usai membaca mantra, membakar Hu, lalu dengan cermin ‘Wasiat’ menyoroti seluruh rumah dan menyiramkan pula air mantra ke seluruh rumah. Tatkala cermin menyoroti rumah, terasa banyak orang yang kabur keluar, lalu hening. Selama beberapa malam ini kami mengamati ternyata sudah aman. Pula, sungguh aneh, ber­bagai keluhanpun lenyap”. Demikianlah telah tercatat suatu peristiwa tentang “Ta Pai San Kai Fu Mu” menaklukkan dan mengusir kawanan momok dan setan.

Selasa, 22 April 2008

Memahami Hukum Karma Bab 8

BAB VIII

PENAMPILAN BEBERAPA KISAH NYATA YANG TERJADI BAGI PELAKU YANG TELAH MERUBAH/MEMPERBAIKI NASIB YANG TELAH DITAKDIRKAN

Ingin memperbaiki nasib, mudah dibicarakan namun sulit untuk dikerjakan. Walaupun dalam hati mengerti akan sebab-sebabnya, tetapi untuk mengerjakan secara kongkrit akan terasa sangat sulit. Sebab harus memberikan pengorbanan tertentu, korban waktu, pikiran, tenaga, uang, dll, pula harus dilaksanakan terus menerus, barulah berhasil. Tidak sedikit orang yang pada permulaannya penuh dengan kepercayaan, tetapi setelah melalui satu jangka waktu tertentu, tetap tidak Nampak hasilnya, maka ia putus asa. Timbullah keragu-raguan, bahkan melepaskan atau membatalkannya, ia lebih sudi menjadi hamba nasib, lalu dikatakannya “Terserah pada Thian (Tuhan)”

Inilah kesulitan manusia hendak mengungguli nasib, justru ada kesulitan ini, kian jelaslah keunggulannya dan nilainya. Pada hal, dengan mempunyai kepercayaan yang kuat, tekad yang teguh, semangat yang kokoh, apapun kesulitannya, bagi orang ini tidak sulitlah memperbaiki nasibnya. Saya akan menceriterakan beberapa kisah nyata untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan.

A. Dengan keinginan dan tekad yang kuat, dengan manusia sebagai factor pembuat nasib, menolong perkawinan yang gagal dan bahkan menolong jiwa suaminya.

Kisah ini terjadi pada 3 tahun yang lalu, pada suatu senja yang mendung. Didalam tempat meramalku, ruang penuh dengan tamu, diantaranya ada seorang ibu muda yang bertubuh agak tinggi, wajahnya nampak muram, ia duduk dipojokkan tanpa berkata.

Waktu tiba gilirannya, ia mendorong pintu kaca dan masuk kedalam ruang tamu ku. Ia memberikan secarik kertas pendaftaran, aku mempersilakannya duduk. Kuperhatikan kertas itu dimana tertulis namanya Wang Siauw Cen, ia ingin bertanya soal perkawinan. Tulisannya indah. Seperti biasanya aku tidak bertanya banyak pada tamuku, iapun tidak mengucapkan sepatah katapun lalu aku dengan cermat meramalkannya.

Usai ramal, aku berkata : “Perkawinanmu telah hancur, tak dapat ditolong lagi”. Matanya nampak memerah, tetapi tetap tenang dan secara hambar lalu ia bertanya: “Apa sebabnya?”. “Sesuai dengan ramalan, kesalahan terletak ada di diri anda. Watak anda keras dan berangasan, pula perpecahan perkawinan ini adalah atas keinginan anda sendiri”.

Ia menganguk dan mengakui bahwa ia lah yang mengajukan perceraian. Diceriterakan bahwa perangainya lah yang sangat buruk, sering memarahi suaminya. Kini pisah ranjang dan ia pulang kerumah ibunya telah 3bulan. Hatinya sangat menyesal, ingin hatinya rujuk kembali tetapi terbentur pada keangkuhan. Ia tidak berani mengambil inisiatif, iapun takut kalau suaminya atau orang dalam rumah tidak menyetujuinya, maka ia datang meramal apakah masih dapat ditolong.

Mendengar ceriteranya, aku sangat simpatik. Aku mempelajari Peh Jin nya, ternyata memang ditakdirkan menyakiti suami. Atas dasar ramalan ini, suaminya bila tidak cerai pasti akan berumur pendek. Aku hanya dapat menghela nafas dan bergedek, sulit membantunya.

Umumnya orang segera berpamitan, tetapi wanita ini tetap duduk dan bertanya: ”Adakah cara untuk memperbaiki nasib?”. Inipun sebuah pertanyaan yang sering diajukan oleh kebanyakkan orang dan sebagainya biasanya aku pun menjawab nya: “Ingin dengan perbuatan manusia memperbaiki nasib sangatlah sukar, satu dalam seribu pun tidak ada yang berhasil, mudah memang berbicara. Dalam hatiku berkata: “Sudahlah, sebaiknya anda menyerah saja”.

Tak kusangka dengan mata terbelalak ia memandangku dan berkata: “Asalkan ada jalan, betapapun sulitnya akan kuusahakan. Tolong beritahu aku”. Kupikir, anda hanya terbawa emosi sementara, mungkin anda tidak mempunyai tekad, maka aku berkata: “Ada jalan nya, tetapi harus dilakukan terus menerus tanpa hentinya”. “Harus dilakukan dalam waktu berapa lama?” tanyanya. “Anda tak perlu Tanya berapa lama nya, jika anda mempunyai kepercayaan lakukanlah semaksimal mungkin, hingga tercapai tujuan itu”. Kataku. “Baiklah, akan kucoba sedapat mungkin” tukasnya.

Maka, kuterangkan tentang hokum sebab akibat, pada pokoknya anda tanam benih apa, maka akan memetik buah apa, lalu mengajarkan nya agar membaca Ko Ong Kwan Se Im sebanyak 1.000 kali, setelah terhapus sedikit dosa dendamnya, kelak baru dibicarakan lagi.

Setelah lewat dua bulan ia datang menemuiku lagi, katanya: “Telah kubaca lebih dari 800 kali, tak ada perubahan atas hubungan dengan suamiku, namun ada reaksi baik atas pekerjaanku. Biasanya aku tidak akur dengan teman sejawat, banyak orang licik, majikanpun tidak baik padaku, setelah membaca Keng tersebut, kini rekan kerjaku bersikap baik, begitu pula dengan majikkanku, sungguh ajaib”.

Ku jelaskan padanya sedikitpun tidak aneh, pahalanya membaca Keng, telah mulai menghapus dendam yang agak ringan. Sedangkan soal dalam perkawinan adalah karma dendam yang agak mendalam. Selanjutnya, nyonya tersebut secara resmi memulai “Perjalanan panjang untuk menolong perkawinannya”.

Dalam setahun, tak sedikit Keng Buddha yang dipelajarinya, tanpa hentinya setiap hari membaca Keng, tak terhitung lagi jumlahnya. Juga mulai berkenalan dengan beberapa nyonya yang lain, bila senggang pergi ke wihara untuk membaca Keng, ikut berbakti dalam pekerjaan social, sering mengunjungi panti jompo, melakukan kebaktian untuk kesejahteraan umum, seering melepaskan makhluk hidup. Pokoknya setiap ada kesempatan beramal pastilah dilakukannya. Tetapi ia tetap belum mendapatkan reaksi dari suaminya. Ia mulai agak tak sabar, timbl keraguan dalam hatinya, namun teman sekelompok pembaca Keng memberikan dorongan semangat, hingg ia tetap giat berusaha.

Suatu saat, dari familinya ia mendengar berita bahwa suaminya gagal dalam perdagangan, tidak lagi menjadi majikkan, tetapi menjadi karyawan staf tinggi sebuah perusahaan besar, dan sering terbang keluar kota untuk tugasnya, jarang sekali berada di Hong Kong. Untunglah belum berkenalan dengan teman wanita lainnya. Ia tetap berusaha, tak mengendor sedikitpun.

Kira-kira setengah tahun kemudian, pada suatu malam ia menerima telepon dari familinya. Walaupun gagal dalam perdagangan suaminya masih tetap merindukannya, pernah mencari keterangan tentang kehidupannya. Ini sebuah berita baik. Tahulah kini bahwa semua usaha nya tidaklah sia-sia, maka lebih rajin lagi dia berusaha. Lewat sebulan lagi, akhirnya ia menerima telepon pertama kali yang diberikan suaminya. Mulailah kencan pertama mereka sejak berpisah ranjang, sungguh tak mudah. Sejak itu, setelah melalui kencan beberapa kali, saling menghilangkan kesalah pahaman kedua belah pihak, ajarak antara mereka berdua kian dekat, maka nyonya Wang mengambil inisiatif mencabut kembali gugatan cerainya dipengadilan, kedua suami istri rujuk kembali. Temannya mengucapkan syukur dan gembira atas haasil yang dicapainya. Namun ceritera ini belum usai, justru disaat kedua suami istri ini akan rujuk kembali, terbetik kabar bahwa suaminya menderita penyakit kanker, dan mulai pembuktian beberapa rumah sakit terkenal, penyakitnya telah mencapai tingkat yang gawat. Hal ini tentu saja merupakan pukulan yang berat bagi mereka berdua. Teman-temanpun ikut merasakan kesusahan ini.

“Apakah nasibku demikian buruk? “ny. Wang mencari ku lagi. Aku tidak terkejut akan gejolak yang dihadapinya, kukatakan: “Sesuai dengan Peh Jin anda, ramalan menunjukkan bahwa jika anda tidak cerai pasti membawa kematian suami, hal ini pernah ku katakan padamu dahulu. Kini menjelang anda rujuk kembali dengan suami, menemui hal diluar dugaan, ini membuktikan bahwa anda belum sepenuhnya memperbaiki nasib, usaha anda selama setahun lebih barulah mendapatkan setengahnya”. “Lalu sebaiknya bagaimana kini?” tanyanya. Kataku: “Dalam waktu satu setengah tahun anda telah membaca banyak macam Keng, telah banyak beramal, memohon tidak sedikit pada perkawinan akhirnya telah anda dapatkan, karma ini telah membuktikan bahwa aku tidak mendustaimu. Jelas telah menunjukkan: inilah jalan satu-satunya yang dapat ditempuh. Sebaiknya anda terus lebih giat verusaha.”

“Soalnya kini sangat gawat, aku tak dapat pangku tangan tidak menolongnya, namun aku tak mungkin bisa menghabiskan waktu satu dua tahun lagi, sebab penyakitnya tidak mungkin memberikannya umur sepanjang itu” katanya dengan gugup.

Sejenak kupikir, aku menjawabnya: “Kini soalnya tergantung pada usaha manusia, anda boleh memohon pada Po Sat. sebab hal nya sangat gawat, anda harus dengan sungguh-sungguh memberi janji dihadapan Po Sat, mohon kewelasannya, lalu sesuai dengan kemampuan diri sendiri melaksanakan nya. Perlu di ingat bahwa janji harus bertolak dari kesungguhan hati, dilaksanakan sesuai dengan kemampuan diri sendiri dan secepat mungkin. Berjanji harus dengan maksud baik, jika janji terlampau muluk dan jika tidak dapat melaksanakan nya berarti menipu Po Sat, ini lebih menambah dosa, jaadi tentukan lah sendiri soal janji itu”. Setelah mendengarkan uraianku ia pamit tanpa berkata kata.

Pada esok pagi-pagi benar ia telah menghadap Po Sat dan memberikan janjinya. Ia berjanji seumur hidup akan beramal baik, menolong orang lain, mohon agar Po Sat menolong jiwa suaminya. Waktu berjanji ia membaca surat janjinya, air matanya berderai dikala ia membaca sampai kalimat yang menyedihkan, kesungguhan hatinya jelaslah sudah. Disamping itu ia mendorong suaminya dengan penuh kepercayaan untuk bertobat, pula lebih giat lagi membaca Keng dan setiap pagi-pagi benar telah menghadap Po Sat untuk kebaktian, setengah jam kemudian baru berangkat kerja. Malam harinya membaca Keng dirumahnya, dan amal sehari-hari kian giat.

Tetapi, soalnya masih bergejolak. Melalui beberapa ahli yang bertaraf internasional, mereka mengambil kesimpulan diagnosa bahwa suaminya tak tertolong lagi. Banyak orang mengoyngkan kepala dan menghela nafas mendengar berita ini, katanya Po Sat sudah tidak manjur lagi, kasihan ny. Wang yang sia-sia usahanya. Ini benar-benar suatu ujian yang terberat bagi kepercayaan hati. Namun ny.Wang tetap teguh hati, giat berusaha. Ia masih harus menerima berbagai tekanan dari pihak ibunya, ia menahan derita yang tak tertahankan dari kebanyakkan orang, kebulatan tekad yang kuat inilah merupakan factor terbesar dari kesuksesannya.

Sangat kebetulan, dikala saat yang kritis ini, terdengar berita ada seorang top ahli didunia tentang penyakit kanker berkunjung ke Hong Kong. Maka dengan segala macam cara dan relasi serta koneksi, ia berusaha menemui beliau. Setelah berusaha keras barulah berhasil, dan beliau dengan cermat memeriksa suaminya dan menyatakan bahwa masih ada cara untuk menyembuhkan suaminya dan beliau akan melakukannya sendiri.

Inilah karunia Buddha atas kesungguhan hati dari ny. Wang, betapa besar welas asihnya Sang Buddha. Berkat pengobatan dari ahli ini, suaminya tertolong dari maut. Ny. Wang sangat terharu atas kewelas asihan Buddha, demikian pula dengan teman se-agamanya. Lalu dengan cara bagaimana ia membalas kebaikkan Sang Buddha? Jalan terbaik ialah “Tak henti-hentinya beramal”. Dengan langkah nyata memenuhi janji sendiri: “Menolong orang yang sangat membutuhkan bantuan dan selama hidupnya beramal”.

Kisah nyata ini telah usai, nyonya. Wang kini menjadi orang yang berbahagia, penyakit suaminya telah sembuh, usahanya lancer. Pengalamannya sejak awal hingga akhir hanya 3 tahun, hal ini telah mengubah secara keseluruhan pandangan hidupnya. Kini setiap hati ia memenuhi janjinya, ters beramal.

B. Sebuah kisah tentang merebut kembali nyawa sendiri dari tangan Dewa Maut.

4 tahun yang lalu ditempat praktek nujumku seorang pemuda. Ia bertubuh kerempeng, wajahnya pucat pasi, sepasang bola matanya hamper melotot namun tak bersemangat. Begitu ia melangkah masuk segera ia duduk diatas sofa sambil mengap-mengap nafasnya, tak sepatah kata keluar dari mulutnya. Kupikir orang ini tepatnya harus kedokter, bukan ke nujum, mungkinkah ia salah alamatnya?

Agak lama barulah ia bangun dan duduk dekat meja tulisku. Ia mulai bicara, tetapi aku hanya melihat bibirnya yang bergerak tanpa bisa mendengarkan suaranya. Kudekatkan telingaku, barulah pelan-pelan mendengar suara nya yang sangat kecil. Ya, seseorang yang benar-benar harus dikasihi dan mendapatkan simpatik. Aku benar-benar sangat simpatik padanya.

Mengertilah ia bahwa aku tidak dapat mendengar kata-katanya, maka ia mengambil kertas dan menuliskan apa yang hendak disampaikan. Pertama ia ingin menanya “Keadaan Penyakitnya” dengan sungguh-sungguh ku berdoa dan meramalkan penyakitnya, hasil nujum ku ialah penyakitnya sangat berat dan bahaya, jiwanya sulit ditolong, namun aku tidak berani berterus terang dan hanya menghiburnya bahwa diperlukan waktu lama serta teliti untuk berdoa. Mendengar kata-kata ku ia manggut-manggut tanda mengerti, kemudian ia menulis lagi.

Ternyata ia bernama Chang Sew Ming. Dua tahun yang lalu ia masih merupakan seorang pemuda yang lincah dan sehat. Pada suatu hari bersama seorang temannya ia pergi meramal nasibnya pada seorang ahli nujum kenamaan, begitu melihat nya ahli nujum itu mengatakan bahwa umurnya tidak akan lebih dari 3tahun lagi. Tatkala itu tentu ia tidak percaya dan tak menaruh perhatian atas kata-kata itu. Tak diduga tak lama kemudian ia menderita penyakit aneh ini, dokter mengatakan bahwa brochitis, shinse mengatakan bahwa daya tahan tubuhnya terluka. Mula-mula ia merasakan agak sesak nafas ketika olahraga, segala macam obat tidak berguna, dengan cepat penyakitnya memberat, tanpa olahraga pun megap-megap napasnya. Tubuhnya dengan cepat mengurus mata nya celong, dalam beberapa bulan berubahlah ia seperti kakek-kakek. Baik pengobatan dokter maupun tabib tidak berguna, bersamaan itu ekonominyapun mengalami kesulitan besar sedangkan penyakitnya bertambah berat, nampaknya tinggal tunggu ajal saja.

Menghadapi keadaan sekarang ia teringat kata-kata peramal itu. Ia mulai percaya soal peruntungan, karenanya ia memperlihatkan Peh Jin nya (Hari dan saat lahir) pada beberapa peramal nasib, mereka semuanya menyatakan bahwa ia tak akan bisa melewati tahun ini. Dalam keadaan putus asa ini, sukarlah dilukiskan betapa sedih hatinya. Ia bersiap beberapa saat lagi akan pergi mendengar acara ramalan radio pemakaman lagi. Secara kebetulan ia mendengarkan acara ramalan radio yang ku asuh, dimana aku membicarakan persoalan memperbaiki nasib dan hokum karma. Hal ini menimbulkan pemikirannya ingin bertanya, setelah mencari keterangan alamatku ia datang berkunjung.

Kulihat ia sambil menulis riwayat singkatnya sambil mengalirkan air mata, hal ini menumbuhkan simpatik dan ibaku yang amat besar, diam-diam hatiku menangis. Tanpa terasa teringatlah Keng Ta Pei to Lo Ni, antara lain berbunyi: “Banyak umat yang sering terhambat oleh dosa berat, tidak melihat para Buddha, tidak tahu jalan, hanya mengikuti hidup dan mati, tidak tahu rahasianya, kini walaupun aku mengetahui, namun terhalang oleh dosa yang sama…” demikian manusia dalam dunia.

Ia mengajukan pertanyaan padaku, pertanyaan nya yang pertama ialah: “Setelah mati, impaskah segala-gala nya bagi manusia?”. Dengan serius ku jawab: “Dalam dunia dan alam semesta tak ada soal yang demikian mudah, bukan ? jika seorang yang berdosa berat, membunuh, membakar, merampok, memperkosa, menipu harta, dll, lalu menikmati sepuasnya, begitu saatnya tiba dan mati, jika lalu impas segalanya, adilkah Thian (Tuhan)? Karma yang tidak berwujud, bagi kita orang awam sulit melihatnya. Cobalah anda lihat adakah orang yang kaya dengan licik berakhir baik? Adakah keturunannya jaya? Asalkan anda agak memperhatikan keadaan sekeliling, dimanapun dapat terjadi peristiwa “Karma didepan mata”. Orang, baik hidup ataupun sudah mati, pasti menerima pengadilan “Hukum Karma”.

“Bila orang tidak berbuat baik maupun jahat, lalu bunuh diri apakah ia berdosa?”. “Umumnya orang putus asa lalu membunuh diri, dosanya sangatlah besar. Satu diantara sebabnya ialah orang lahir karena ibu dan ayah, orang lahir dan hidup karena langit dan bumi, bunuh diri tidak hanya menentang ayah dan ibu, iapun mengkhianati alam, dosanya besar. Sebab kedua, setiap orang mempunyai WATAK BUDDHA, bila watak Buddha ini dapat digali pastilah ia akan menjadi Buddha. Bunuh diri berarti memutuskan jalan penggalian watak Buddha, sama dengan membunuh Buddha, dosanya berat dan besar. Jadi yang bunuh diri pasti akan mendapatkan peradilan karma buruk, akan menerima hukuman yang menyedihkan demi negara atau mempertahankan kesucian bagi wanita, bunuh diri semacam ini, bukan berdosa melainkan sebaliknya bermoral”.

Dengan cara dialog aku menjelaskan prinsip hukum karma dan cara memperbaiki nasib, dan mendorongnya tidak pesimis, jangan mati, jangan pula menanti mati, harus menegakkan kepercayaan dan tekad, dengan aktif menghapus dosa yang dibuatnya pada masa yang lalu, inilah cara penyelesaian yang tuntas. “Sisa hidupku tinggal sedikit, tidak terlambatkah aku?” tanyanya. “Terlambat atau tidak, selama masih ada nafas, haruslah bekerja secara nyata, setelah mengerti, tak boleh lagi mengulur waktu” kataku.dengan pelan-pelan ia berdiri, wajahnya yang pucat pasrah tersungging sebuah senyum, tangannya yang kurus diulurkan menjabatku, lalu pamitan.

Kira-kira 10hari kemudian, kuterima sepucuk surat darinya, pada pokoknya ia berterima kasih atas petunjuk ku, hingga hatinya terbuka. Ia mulai berkeyakinan untuk hidup terus, ia pun mulai memuja Buddha. Berhubung dalam rumah tak mudah menyediakan altar, dengan pikiran ia membayangkan bentuk Buddha, menghormatinya atau memuja pun dengan cara “Dibatin” (sebab kalau berolahraga atau bergerak sedikitpun sudah sesak nafas nya). Ku ajarkan pada nya membaca Keng inipun menyesakkan nafasnya. Lalu dengan menggunakan daya imajinasi ia membentuk kata-kata Keng, dengan cara ini dilakukannya sedapat mungkin. Padahal aku sangat memprihatinkan nya, sebab betapa pun ia berusaha hanya mencapai hasil yang seminim ini, sedangkan dosa nya sangat berat.

Sekejap mata setengah tahun telah lewat, pada suatu hari ia mencari ku lagi, langkah-langkah nya masih demikian lambat dan wajahnya tetap pucat. “Bagaimana? Adakah sedikit kemajuan?” tanyaku dengan was-was. Hanya gelengan kepala dengan alis dikerutkan, jelas ia agak frustasi. Kupikir dosanya amat berat , sedangkan “Kebaikkan” yang dapat diselesaikan demikian sedikit, ini bagikan pisau kecil untuk menebang pohon besar, waktu yang setengah tahun itu pun tidak membuahkan hasil. Lalu ku anjurkan ia agar tetap meneruskan kegiatan nya, dan mengajarkan nya bertobat serta berjanji dihadapan Buddha. Selama ini ia pun membaca beberapa buku agama Buddha. Tahulah arti “Tobat” dan “Berjanji”. Lalu ia pergi kesebuah wihara, berlutut dihadapan Buddha dan menyatakan tobatnya serta mengucapkan janji “Jika penyakitku bisa sembuh, dengan sekuat tenagaku akan ku sebar luaskan ajaran Buddha”. Sejak itu ia kian rajin mempelajari Dharma (ajaran agama Buddha). Tak terasa beberapa bulan telah lewat, aku jumpa lagi dengan nya. Ia memberitahuku bahwa sungguh pun penyakitnya belum membaik, tetapi didapatkan nya bahwa penyakitnya selama setengah tahun ini tidak memburuk, obat sinse pun terkadang ada hasilnya, kuanjurkan ia untuk terus maju.

Dalam keadaan seperti ini, telah lewat lagi setahun lebh, lambat laun suaranya telah dapat terdengar jelas, jalanpun lebih cepat, minum obat pun lebih manjur. Kepercayaan nya lebih kokoh, latihanpun dipergiat. Hari demi hari telah berlalu, beberapa bulan kemudian ku bersua lagi dengan nya, kudapati wajahnya lebih bersinar, matanyapun ada semangat, suara nya bila berbincangpun telah sama dengan orang biasa. Ia sendiripun kian hari kian rajin, uang transportasi yang hanya sedikit yang didapat dari ayah-ibunya, sebagian besar dipergunakan untuk melepaskan makhluk hidup. Teman-teman kebaktiannya melihat ia miskin, mereka dengan suka rela menyokong biaya pengobatan nya. Secara diam-diam dipergunakan untuk melepaskan makhluk hidup, katanya: “Obat boleh tidak kumakan, namun amal tidak boleh berhenti, minum obat hanyalah mengobati lahirnya, sedangkan beramal untuk mengobati intinya”. Ia dapat menyadari makna ini, benar-benar suatu kemajuan pesat.

Pada permulaan tahun lalu, wajahnya mulai memerah, tubuhnyapun agak gemuk, walaupun masih berobat, namun sudah jauh lebih sehat. Sejak pertama aku melihatnya hingga kini 4 tahun telah berlalu, ia tidak mati karena memburuknya penyakit, sebaliknya kian sehat. Kita bergembira untuknya dan mengucapkan syukur untuknya. Ia sendiripun selama 4 tahun ini tiap hari tanpa putusnya membaca Keng Buddha. Tanpa tekad dan keyakinan yang kuat tak mungkinkah semua hal itu tercapai. Karunia kasih sang Buddha pun harus didapat dengan keyakinan yang kuat dan tekat yang teguh. Semoga Cang Sew Ming dapat segera mewujudkan janjinya: “Berjuang demi menyebar luaskan ajaran Buddha”.

C. Sebuah kisah tentang orang yang kurang teguh tekad nya, putus ditengah jalan

Diantara muridku ada seorang pelajar putrid yang bernama Chen Siau Jiu. Suatu malam, tatkala jam istirahat, ia memapakku diruang tamu laboratorium. “Pak Liu, adakah waktu senggang untuk meramalku?” Tanya nya. “Adakah hal yang luar biasa?” kubalik bertanya. “Ada suatu urusan yang penting mohon bantuan bapak”. Katanya agak gugup. “Hari ini tak ada waktu, baiklah ku janjikan waktu tertentu saja”. Kataku. Pada saat yng kutentukan, ia datang bersama seorang teman pria ke tempat praktek ku.

“Setahun yang lalu aku menderita suatu penyakit yang aneh, teling kiriku tiba-tiba menjadi tuli, sedikit suarapun tidak terdengar. Dokter telah memeriksa beberapa kali tanpa hasil, sebab kendang telingku tidak ada kelainan, namun tidak dapat mendengar apapun”. “Apa yang hendak kau rama?”. “Hal ini sangat lah aneh, aku ingin diramal apa sebenarnya sebab dari penyakitku ini?”. Lalu akupun meramalkan. Hasil ramalan dengan jelas menunjukkan sumber penyakit itu. Ternyata setahun yang lalu, ia telah melakukan suatu perbuatan yang bodoh, yang merugikan moral dan akhlak dan tempatnya pada malam hari yang gelap ditegalan, dimana hawa IM sangat kuat, hingga ternyata kena IM yang kurang baik. Ini yang pertama, yang kedua ia telah menggugurkan kandungan nya, ini lebih merugikan moral dan akhlak nya, hawa IM yang buruk kian merasuk kedalam dan menyerang telinga kiri ku, menyebabkan telinga kiri ku tuli.

Hasil ramalan ini lama tidak membuat ku tidak berkata, sebab ini adalah rahasia yang amat disembunyikkan nya, bagaimana aku harus memulai? Membuka rahasia orang lain bukan lah hal yang dapat dilakukan orang yang bermoral tinggi, namun bila sama sekali tidak mengatakannya, bagaimana mungkin menyadarkan nya? Setelah berdiam agak lama, kuputuskan untuk mengatakan nya dan kuharapkan ia segera sadar. “Nona Chen, akan kukatakan hasil ramalan padamu. Kuharap anda tidak berkecil hati, jika ada maka dicari cara meradatinya, sebaliknya jika tidak ada cukup didengarkan saja” kataku. “Pak liu, katakanlah apa adanya, aku tidak keberatan”. Dia agak kurang sabar menunggu, berkata dengan sambil membelalakkan mata.

“Dalam ramalan dikatakan anda pernah menggugurkan kandungan, benarkah ini?”. “Oh… jadi dalam ramalan dikatakan demikian?” ia terkejut, matanya terbelalak lebih besar. “Betul, dalam ramalan dikatakan demikian” kataku dengan tenang, ia tertunduk, matanya melihat kebawah, muka nya agak memerah. Sejenak kemudian, barulah ia menengadah dan berkata: “Secara jujur, memang pernah begitu. Tetapi, apakah hubungan nya dengan telinga kiriku?” Dalam ramalan ditunjukkan bahwa anda telah merugikan moral dan akhlak, pernah menggugurkan kandungan, hal ini memungkinkan hawa IM yang buruk merasuk. Jadi ada sebab dan ada akibatnya. Itulah sumber penyakitmu”, tetap kukatakan dengan tenang, “Masih ada jalan menolong, aku benar-benar memohon bantuan bapak”, ia mulai merengek. “Aku sendiri tidak berdaya. Jika anda percaya pada Buddha, mengapa tidak memohon bantuan Po Sat mengatasinya?” kataku, “Segalanya telah kuminta bantuan nya, ya Buddha, minta ciamsi, ahli kebathinan, telah banyak meminum berbagai air jimat, tidak berhasil”. “Bagaimana pendapatnya para ahli kebathinan?” dengan heran ku bertanya. “Masing-masing tidak sama pendapatnya, ada yang mengatakan bahwa aku menyalahi Dewa, ada yang mengatakan bahwa itu takdir bahkan ada yang mengatakan bahwa tatkala aku pergi ke desa, melewati sungai bayangan ku tertangkap oleh setan air, sehingga rohku menjadi tawanan nya. Tetapi tak pernah ada orang yang mengatakan bahwa aku pernah ada orang yang mengatakan bahwa aku pernah menggugurkan kandungan”.

“Percaya anda pada pendapatku?” tanyaku. “Bapak telah mengatakan dengan tepat, aku percaya. Tolonglah saya Pak Liu, aku benar-benar memohon bantuan anda”. “Dari pada mohon bantuan orang lain lebih baik mohon batuan diri sendiri, lebih dulu kau mohon bantuan Po Sat dalam hatimu, hal ini lebih manfaat daripada yang lain”. “Bagaimana caranya? Tunjukkan padaku. Apakah anda setiap hari membakar dupa memujanya?”. “Tidak semudah itu”. “Jadi bagaimana, mohon anda memberi petunjuk”. “Akan kuajarkan kau membaca sebuah Keng, setiap hari ada kesempatan baik berjalan, duduk atau tiduran boleh kau membacanya, tidak boleh putus, berbulan dan bertahun-tahun, dalam jangka panjang. Adakah anda mempunyai tekad ini?” tanyaku. “Aku dapat melakukannya” dengan tegas ia menjawab. Lalu kuajarkan sebuah Keng yang pendek, khusus untuk menghapus dosa dan mengusir hal-hal yang buruk. Disebabkan ia pernah menggugurkan kandungan, jadi merugikan moral dan akhlak. Ku suru ia melepaskan makhluk hidup dan diusahakan sebanyak mungkin, ia menyanggupi semua nya. Disamping itu, pada altar Buddha yang ada dirumahku sendiri, setiap aku selesai membaca Keng, pasti secara suka rela kubacakan Keng demi memohon bantuan Buddha menolongnya.

Dalam bulan pertama, ia memang telah 2 kali melepaskan makhluk hidup dan membaca Keng. Kira-kira dua bulan berjalan, ia menelepon ku: “Mengapa belum berhasil?”. Kujawab: “Bukankah telah kukatakan bahwa harus dilakukan setiap hari tanpa putus, baik sedang duduk atau tidur, selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, harus ada tekad barulah bisa berhasil”. Lewat lagi sebulan ia menelepon ku lagi: “Pak Liu, dalam dunia ini bukan kah banyak yang melakukan abortus sampai berkali-kali, sedangkan aku baru sekali mengapa seberat ini dosaku?”. Kukatakan padanya bahwa abortus pasti menerima karma nya, soalnya lambat atau cepat. Juga masih ada factor lain. “Masih ada factor lain?” tanyanya.”…” aku tidak mempunyai kata-kata lagi, telah kuduga ia pasti sudah tidak sabar lagi, kubertanya: “Bagaimana kini?”. “Belum berhasil” jawabnya. “Adakah dalam beberapa bulan ini anda telah membaca Keng ?” kejarku. “Terkadang kubaca beberapa kalimat”, hl ini bearti “Hati tidak bertekad”. Bagaimana dapat berhasil?

Jelaslah bahwa ia telah mangkir beberapa bulan. Kalai begini, sia-sialah doa dan Keng yang setiap malam kubacakan demi membantunya. Sepuluh ribu jalan timbul dari hati, bila sungguh-sungguh pasti bisa menggerakkan Dewa. Ia telah lama tidak bersungguh-sungguh, lebih-lebih tidak ada tekad, bagaimana mungkin mengetuk hati Buddha untuk menolongnya? Dengan diam-diam kukembalikan altar Buddha, membenahi semua benda untuk membca Keng yang khusus kusediakan untuknya. Peristiwa ini telah berlalu setahun yang sudah, telinga kiri nona Chen tetap seperti dulu. Bila orang hendak merubah nasib perjalanan hidupnya, bila ingin menghapus dosa dirinya, memang mudah diucapkan. Namun bila kurang keteguhan kepercayaan hati dan tekad yang kuat dalam jangka panjang, akhirnya ia hanya dapat membiarkan dirinya diatur oleh nasib, segalanya “PASRAH”, tak ada jalan keluar sedikitpun.

D. Sebuah kisah tentang mendapatkan karunia dari akibat beramal, membantu melepaskan makhluk hidup.

Tempat kuberpraktek meramal nasib juga merupakan sebuah kuil yang kecil. Sejak musim semi 1981, sering mengadakan kebaktian dan pelepasan makhluk hidup, diikuti oleh beberapa murid ku temanku, mereka adalah penganut agama Buddha yang taat. Pada waktu kebaktian mereka masing-masing sama-sama tidak makan makanan yang bernyawa, memegang teguh larangan agama dan menyucikan diri. Dalam membaca Keng sikapnya sangat bersungguh-sungguh, setiap kebaktian dilakukan penuh ke khidmatan (umumnya dengan mengutamakan Cinta Kasih), sehingga dapat mencapai tujuan untuk penyelalan dan pengampunan dosa bagi dirinya dan semua umat.

Pelepasan makhluk hiduppun merupakan tugas yang sangat penting, sedikitnya setiap bulan sekali, terkadang sampai 3 atau 4 kali. Aku sendiri menentukan mengambil 5 sampai 10 dollar Hong Kong dari penghasilan ku setiap harinya untuk khusus sebagai uang/dana pelepasan makhluk hidup. Disamping itu aku sering dengan Cuma-Cuma mengisi dan memanterai patung Dewa yang disodorkan para langganan. Sebenarnya tidak kutarik biaya, tetapi para langganan memaksa harus menerima. Untuk tidak mengecewakan mereka, biaya itu ku terima, tetapi kualihkan untuk dana pelepasan makhluk hidup bagi para penyumbang itu (aku telah bersumpah dihadapan Buddha bahwa semua patung yang kuisi dan kumanterai, tidak dipungut biaya, bila kumelanggar, biarlah ku dihukum dalam neraka. Oleh karena itu seluruh biaya itu kudanakan untuk pelepasan makhluk hidup).

Selain itu, tak sedikit teman-teman pemeluk agama Buddha, ada yang demi permohonan rejeki atau memohon panjang usia bagi orang tuanya, sering kali mereka memberikan uang padaku agar aku membantu melakukan pelepasan makhluk hidup atas nama mereka. Untuk ini aku harus benar-benar mempertimbangkan dan terbatas pula menerima melakukan bagi mereka. Ada 2 sebabnya; pertama: menerima uang orang lain, mungkin bisa terjadi salah paham. Untuk menghindari penafsiran orang yang bukan-bukan, bila buka orang yang benar-benar telah ku kenal, aku tidak akan mewakilinya melakukan pelepasan makhluk hidup (masyarakat kini kebanyakkan hatinya tidak lugu, mewakili orang beramal juga harus berhati-hati, agar tidak terjadi kesalah pahaman). Kedua: wihara kecil yang kumiliki, ruangnya kecil, yang hendak beramal banyak, sedang tenaga yang membatu ku sangat kurang, jadi harus kubatasi. Lagi pula, kutentukan bahwa setiap makhluk hidup baik burung ataupun hewan air yang hendak dilepaskan harus dibeli secara mendadak, tidak boleh dipesan sebelumnya. Dengan cara ini dapat menghindari pedagang hewan itu jauh-jauh sebelumnya telah memesan dari sumber hewan itu, hingga hewan-hewan itu tidak menderita ditangkap sebelumnya.

Upacara pelepasan makhluk hidup adalah sebagai berikut:

1. Meletakkan dengan baik hewan-hewan yang hendak dilepaskan dihadapan altar Buddha, pertama dengan cara Mi Chung (Tantrayana) memohon penyesalan dihadapan Buddha atas segala dosa yang telah dilakukan mereka pada masa lalu (hewan-hewan ini pada masa kini menjadi hewan, hal ini disebabkan karena pada masa yang lalu telah membuat berbagai dosa, ini karma buruknya), kita membaca Keng penyesalan.

2. Melakukan 4 penataan pada mereka yaitu: tatt pada Leluhur, Buddha, Dhamma dan Sangha. Maksudnya agar mereka pada masa kini menanam “Benih Buddha”, sehingga nanti pada masa yang akan datang bisa terlepas dari kehewanan dan berubah menjadi manusia, belajar ajaran Buddha dan menjalankan tirakat, lambat laun timbul “Watak Buddha” lalu berbuah “Buah Buddha”. Kita bacakan Keng She Kwui Ie”.

3. Membacakan Keng “Sang She Sin”, “Pai Che Ming Chou” agar terhapus dosanya.

4. Mohon dengan welas asih Sang Buddha untuk mereka dan menggunakan “Air Mantra Trisuci” membersihkan tubuhnya.

5. Ditambah membaca Keng “Ta Pei Chou (Maha Karunia Dharani)” 21 kali. Keng “Pelepasan makhluk hidup” 7 kali. Keng “Mas lalu” 7 kali. Kesemuanya pahala ini dikembalikan padanya.

Setelah semua upacara selesai, barulah mereka diangkut keatas kendaraan untuk dibawa keluar kota dan dilepaskan. Selama 3 tahun pelepasan makhluk hidup ini tidak pernah berhenti, teman-teman agama Buddha yang turut serta pelepasn ini mendapatkan berkah dari Sang Buddha dan perlindungan Nya. Dalam pelepasan ada yang membaik nasibnya, ada yang mendapatkan karunia diluar dugaannya. Ada pula yang melepaskan untuk keluarga nya, sanak keluarga itu terlepas dari bahaya menjadi selamat atau hanya sakit berat tetapi tidak samapi mati, berbagai macam karunia, benar-benar sangatlah manjur.

Yang lebih menarik lagi ialah teman seagama yang mengendarai mobil kala pelepasan makhluk hidup, mereka pun ikut pun ikut mendapatkan rumah yang ber Hong Sui baik, bahkan jalan kehidupan nya menjadi lebih cerah. Pertama seorang teman seagama yang menyetir mobil kala pelepasan makhluk hidup telah mendapatkan rumah ber Hong Sui baik, lalu dibelinya dan ia pun pindah kesana, namun disebabkan karena rumah barunya jauh dari kami, selanjut nya ia tidak lagi membantu kami. Kedua tuan Liem yang juga teman segama, sebenarnya perjalanan hidupnya banyak rintangan, usahanya sudah menunjukkan lampu kuning, tetapi kala pelepasan makhluk hidup itu ia berusaha beramal, lagi pula tiap hari membaca Keng “Ta Pei Chou”, maka berbaiklah nasibnya. Po Sat telah memberkahi hidup dan usaha nya. Yang lebih menarik lagi dalam perjodohan terjadi kemukjizatan, teman hidupnya mempunyai rejeki yang besar, karena nya ia ikut menjadi kaya, iapun pindah kesebuah rumah yang ber Hong Sui baik, namun karena rumah barunya amat jauh dari kami , lambat laun ia pun tidak lagi datang membantu. Ketiga ialah seorng teman seagama yang membantu menyetir mobil dikala pelepasan makhluk hidup. Ia mempunyai 2 orang putri, ia ingin benar mempunyai seorang putra. Waktu istrinya lagi hamil, dengan sujud ia memohon ampun atas dosa-dosa dan kesalahan-kesalahannya yang lalu, dengan rajin beramal, memohon Po Sat memberikan nya seorang putra. Kala istrinya bersalin, ternyata melahirkan seorang putra, hal ini sangat menggembirakan hatinya. Naum hal yang menjengkelkan datang menyusul, Hong Sui rumah yang ditempatinya kurang baik, kian lama ia tempati kian banyak hutang nya. Sebenarnya ia ingin pindah, cari rumah yang hong sui nya lebih baik, tetapi ia khawatir sewa rumahnya terlampau tinggi sehingga ia tak sanggup membayarnya.

Kebetulan tak lama kemudian, pemilik rumah menaikkan biaya sewanya, dan bermaksud mengusirnya pergi, maka setiap hari ia mohon Po Sat agar ia bisa mendapatkan rumah yang hong sui nya baik dan iapun menyanggupi pemilik rumah untuk secepatnya pindah. Jumlah seluruh anggota keluarga ada 5 orang, tidak mudahlah di Hong Kong untuk mencari rumah untuk disewa. Disebabkan oleh beban yang berat, agar dapat menampung semua anggota keluarga maka harus dipikirkan sebaiknya biaya sewa rumahpun tidak terlalu tinggi, transport mudah dan berhongsui baik pula, dan harus mendapatkan nya tepat pada waktunya, tidak boleh melebihi batas waktu yang telah ditentukan dan… wah, terlalu banyak syarat nya, untuk idealnya benar-benar sangatlah sulit.

Biasanya ia harus bekerja, tentu saja tidak mungkin ada waktu untuk mencari rumah, sedangkan hari demi hari batas waktu kian mendekat. Hatinya sangatlah gelisah, ia hanya dapat memohon bantuan Po Sat siang dan malam. Kurang lebih tinggal seminggu lagi dari batas waktu pindah, terpaksa ia cuti bekerja, siang hari ia berputar-putar mencari rumah. Telah 4 hari ia mencari, tak sedikit rumah yang telah dilihat nya, kurang ideal. Rumah dengan biaya sewa yang murah sangat sulit didapat, apalagi yang berhong sui baik. Beberapa hari ini sungguh-sungguh sangat melelahkan dirinya, setiap malam terasa penat dan gugup serta gelisah…

Namun terjadi mukjizat, tanpa disengaja mendapatkan sebuah rumah yang cocok dengan hatinya. Sebuah rumah utuh dengan 3 kamar tidur, sebuah ruang tamu, dapur, kamar mandi, wc, berAC lagi, tak perlu diperbaiki lagi dan murah sewanya. Terdapat juga sebuah ruangan kecil untuk memuja Buddha dan semadhi. Yang paling ideal adalah rumah ini ber hong sui baik. Begitu mendapatkan rumah itu segera ia pindah kerumah baru, segera tampaklah nasibnya membaik, ia mendapatkan dukungan bintang penolong, berwiraswasta, dan tak sedikit mala petaka terhindar darinya serta berhasil mengatasi berbagai kesulitan. Disebabkan karena rajin beramal dan melepaskan makhluk hidup, maka dalam waktu setengah tahun ia mendapatkan berbagai macam berkah, membaiklah nasibnya.

E. Membaca Keng, melepaskan makhluk hidup merubah nasib buruk orang tua dan memperpanjang usia mereka.

Orang tua ku telah 50 tahun meninggalkan kampong halamannya di propinsi Kwangtung masa muda, masa kuat dan tuanya dilewatkan disebelah selatan Vietnam. Ayah adalah seorang yang lugu dan jujur, mata pencaharian nya yang pokok ia lah bertenun, ia rajin dan hemat, dengan bantuan yang bijaksana dari ibu, usaha yang berpuluh tahun menjadi mereka cukup berada.

Aku dilahirkan di Vietnam, sejak kecil telah meninggalkan orang tua ku. Aku sebaliknya pulang kekampung Kwantung, hidup bersama dengan kakek yang pandai Hong Sui dan ilmu kebatinan yang lain, 25 tahun kulewati di kampong, berbagai kesulitan hidup telah kualami. Pada usia 30tahun barulah aku diluluskan permohonan untuk keluar dan menetap di Hong Kong.

Pertama kali ke Hong Kong, disebabkan orang tuaku agak mampu, aku mulai merencanakan berdagang, banyak ilusi kubayangkan. Tetapi nasib menentukan lain. Tak lama kemudian, Vietnam sempat diduduki komunis, usaha dan harta orang tua ku diganyang, berubahlah mereka menjadi miskin. Ini bagaikan halilintar disiang bolong, suatu pukulan yang tidak kecil. Jumlah keluargaku ada 7 orang, ini segera melewati hidup yang sangat susah. Makanan dibatasi dan dibagi, sungguhpun beruang tidak mungkin bisa dapat makan kenyang. Tak ada lagi kebebasan untuk bergerak keluar masuk negeri, mengeluarkan pendapat juga tidak bebas, setiap saat dilewatinya dalam ketakutan dan bahaya.

Bagiku disini, semua hubungan dengan kedua orang tuaku terputus, surat tak sampai dialamat/ tak terkirim, telegram tak dapat disampaikan, apalagi paket bagaikan batu tenggelam dalam lautan. Baru setahun kemudian mulai ada berita, aku pun mendengar bahwa banyak pengungsi Vietnam kecebur dilaut, belasan ribu manusia terkubur dalam lautan, ratusan ribu lagi yang lain setelah melalui masa terapung-apung yang lama, penuh dengan kelaparan, medeerita penyakit, terik matahari dll, barulah lolos dari maut. Ini benar-benar malapetaka yang paling menyedihkan, sebuah perampokan yang paling kejam tanpa perikemanusiaan.

Dari beberapa orang pengungsi yang tiba di Hong Kong, ku ketahui bahwa kedua orang tua ku dan saudara-saudaraku pernah 6 kali berusaha melarikan diri dari Vietnam, namun gagal. Mula-mula setiap orang yang hendak melarikan diri diharuskan sebelum menaiki kapal menyetorkan 5tail emas murni, kemudian naik menjadi setiap orang 12tail. Kedua orang tua ku setiap kali menyetornya, tetapi tetap tidak dapat menaiki kapal, ini disebabkan karena orang sangat banyak, simpang siur dan berdesakkan, banyak kapal yang segera tenggelam tak lama setelah kapal-kapal tersebut berangkat. Bagi kedua orang tua kuyang sudah lanjut usia dan saudara-saudaraku yang masih kecil-kecil, bagaimana mungkin bisa menghadapi kesukaran-kesukaran seperti ini?

Tatkala itu aku telah mempelajari Buddhis beberapa tahun. Melihat keadaan nasib keluarga yang demikian buruk, hatiku mengerti bahwa ia adalah karma yang sedang berjalan. Demi secepatnya bisa menolong keadaan ini, hanyalah memohon pertolongan Buddha. Cara kumohon pada Po Sat bukan lah setiap hari membakar dupa lalu menyembah beberapa kali dianggap cukup, melainkan dengan kepercayaan penuh dan tekad yang kuat membaca Keng seperti Ta Pei Chou, Chi Fu Mie Cue Cen Yen, Kao Wang Kwang Ing Cen Cing, dll setiap hari pagi dan malam tanpa henti pula melakukan pelepasan mkhluk hidup, mencetak buku-buku suci dan amal yang lain, aku berusaha dengan sekuat tenaga.

Kemudian aku pergi ke Taiwan belajar Ling Sien Mi Fa yang dapat menghapus marabahaya kedua orang tuaku dan menanbah rejeki mereka. Dengan sepotong papan yang dicat merah sebagai dasar dan huruf kuning emas kutuliskan nama kedua orang tuaku dan tulisan yang berbunyi: “rejeki, usia, sehat, tentram, panjang umur” dan meletakkan nya disamping patung Buddha, setiap hari dengan seluruh Keng Buddha yang ada kutujukan pada papan ini. Bersandar pada kekuatan dan kesaktian Buddha, aku memohon agar Sang Buddha dengan segala kewelasannya membantu kedua orangtuaku terlepas dari penderitaannya.

Begitulah aku melakukan selama setahun, kemudian pada suatu hari aku menerima sepucuk surat yang ditulis oleh kedua adik perempuanku. Ternyata keduanya mengarungi lautan yang ganas, melalui samudra pasifik terdampar kesebuah pulau kosong dekat Filipina, sebuah sampan berisi 20 orang lebih. Mereka melewati penghidupan ala robinson diatas pulau kosong ini, terputus sama sekali hubungan dengan dunia luar, ransom telah habis dimakan. Justru dalam keadaan putus asa ini, datanglah sekelompok pembuat fil yang menshooting diluar studio dan datang kepulau ini. Mereka ditolong dan dibawa ke Filipina, sambil menanti negara yang akan menerima mereka untuk ditampung disitu.

Kedua adik perempuanku mendapat pertolongan dalam keadaan putus asa. Lalu bagaimana dengan kedua orang tuaku? Mereka masih tetap terperangkap dalam kesusahan di Vietnam. Disebabkan sudah tua dan banyak sakit, merasa tidak kuat menderita dalam perjalanan, mereka tidak berani naik kapal. Wah, ini benar-benar celaka, buka? (selama ini ku telah sekuatnya mengajukan permohonan agar orang tuaku dapat diizinkan keluar dari Vietnam tetapi gagal). Namun aku tetap membaca Keng, setiap hati kian bersujud, tetap penuh dengan kepercayaan bahwa Sang Buddha pasti akan dapat membantuku. Tak lama kemudian kuterima lagi surat dari adik perempuanku bahwa ia dengan beruntung telah diterima dinegara Australia, tak lama lagi segera diberangkatkan. Selang beberapa lama kuterima surat dari kedua adik perempuanku bahwa mereka sudah menetap dan mulai bekerja di Australia, siang hari bekerja dan malam hari bersekolah, kesemuanya ini benar-benar masih mujur, inilah karunia Sang Buddha. Kedua orang tua ku yang sudah lanjut usia dan penyakitan serta ketiga adik laki-laki yang masih kecil, tetap masih terkurung dalam penderitaan.

Pada waktu itu, secara teliti kuramal hari lahir kedua orang tuaku. Kudapatkan bahwa ayah kua akan meninggal dunia dalam tahun ini, karena nya kurasakan sangat sedih namun aku tak berani mengatakan pada siapapun. Sekali secara kebetulan aku makan bersama dengan seorang ahli nujum, begitu ia melihat diriku segera mengatakan: “Tahun ini anggota keluargamu aka nada yang meninggal, paling lama tidak akan melewati pertengahan tahun depan”. Aku sanagt yakin ramalan nya, tak hanya tepat dengan hitungan ku, juga tepat benar dengan ramalan seorang ahli nujum terkenal didaratan Tiongkok yang mengatakan padaku 10 tahun yang lalu. Tak dapat kulukiskan kesedihan hatiku. Hatiku berkata: “Habislah … mungkin ini sudah takdir, tak tertolong lagi”.

Namun dalam hatiku tetap ada suatu kepercayaan, bahwa mohon rejeki, mohon panjang usia kesemuanya adalah usaha manusia , tak sedikit contoh yang diberikan oleh orang-orang zaman dulu, demikian juga dengan orang-orang masa kini, asalkan penuh dengan kepercayaan dan tekad yang kuat, pasti akan terkabulkan keinginan kita. Maka dengan hati sujud kumohon ampun atas dosa-dosa orang tuaku dihadapan Sang Buddha, disamping tiap hari membaca Keng, aku berjanji dalam setahun akan melepaskan burung geereja sebanyak 3000 ekor. Aku mohon dengan amal ini dapat memperpanjang usia orang tuaku. Aku berjanji rela mengurangi usiaku sebanyak 10tahun untuk memperpanjang usia kedua orang tuaku.

Janji yang telah kuucapkan ini harus dilaksanakan, ini saatnya kidiuji, namun untuk melakukan nya benar-benar tak mudah. Agar kuingat setiap saat, kutuliskan janjiku diatas kertas dan kutempelkann ditempat yang menyolok dalam kamrku. Dengan demikian baik siang dan malam dapat kulihat. Akupun menggunakan sebuah dos bekas gula-gula untuk menabung setiap hari 5 atau 10 yen, khusus untuk dana pelepasan binatang. Setiap hari aku berhemat untuk menabung dan setiap bulan kuluangkan waktu untuk melakukan pelepasan. Dan kucatat pula waktu dan jumlah pelepasan itu dalam kertas dan kutempelkan juga ditempat yang menyolok, sewaktu-waktu kuhitung masih kurang berapa kali, agar aku tidak lupa.

Dalam waktu setengah tahun lebih aku telah melepaskan 3.000 ekor burung gereja. Hatiku berkata bahwa ini sudah cukup, namun kupikir kembali bahwa kita yang hidup dalam dunia, entah sudah berapa kali reinkarnasi. Dalam berkali-kali siklus kelahiran ini entah berapa lagi dosa yang telah kita perbuat, dan ini bertumpuk hingga kini, jadi berbagai macam malapetaka yang kita jumpai dalam hidup ini adalah KARMA yang harus diterima. Hal ini berlaku baik bagi kedua orang tuaku, adik-adikku dan diriku, semua umat manusia dan hewan dsb. Beratnya dosa tak dapat dilukiskan, jadi dengan tenaga diriku yang sekecil ini, walaupun selama hidupku aku melepaskan makhluk hidup, berapa banyaknya dosa yang dapat dikurangi? Bagaimana mungkin baru melepaskan 3000 ekor burung gerejka sudah merasa cukup? Sadar akan hal ini, kumerasa malu sendiri, karena nya kuteruskan usaha pelepasan. Hingga dalam setahun aku sudah melepaskan 5.000 ekor burung gereja, dan aku tetap tidak berhenti melakukan pelepasan.

Dua tahun telah lewat, ternyata aku tidak mengalami kesripahan, kedua orang tua ku tetap sehat. Memang ayahku mengalami operasi kecil tetapi segera sehat kembali. Nampaknya perpanjangan usia terwujud sudah, Maha Pengasih Sang Buddha. Dari mulai membca Keng demi orang tua ku hingga kini telah 4 tahun, justru dalam musim panas tahun ini, terjadilah kemukjizatan. Tiba-tiba kuterima surat orang tuaku dari Australia. Dari lubuk hati yang dalam kuucapkan puji syukur p[ada welas asih nan akbar Sang Buddha.

Akhirnya aku mengerti bahwa kedua adik perempuanku dapat lolos dari maut dan tiba lebih dahulu di Australia. Ini adalah diatur oleh Sang Buddha, sebab dengan inilah kedua orang tuaku dan adik-adikku barulah dapat dalam 3 tahun kemudian menyusulnya. Jika tidak, bagaimana mungkin kedua orang tuaku yang berbadan lemah dapat melepaskan diri dari laut kesengsaraan.

Kedua orang tuaku tak hanya memperoleh kepanjangan usia, mereka pun terhindar dari malapetaka dan memperoleh rejeki. Orang tuaku dan adik-adik setelah melewati berbagai kesulitan dan penderitaan, mendapatkan kebahagiaan dan berkumpul lagi. Hal ini benar-benar suatu manifestasi dari kewelas asihan nan akbar dari Sang Buddha. Hal ini jelas memberitahukan kepada para umat tentang suatu kebenaran: “Untuk mendapatkan rejeki, panjang usia dan terhindar dari malapetaka, untuk merubah keadaan yang buruk, hanyalah mengandalkan kepercayaan dan tekad diri sendiri dengan giat beramal, prihatin dan menanam benih kebajikkan.